Senin, 31 Mei 2010

Pendidikan Harus Melahirkan Manusia Demokratis

Meskipun kita meyakini membawa cacat bawaannya sendiri, namun genderang demokrasi terlanjur kita tabuh. Sedemikian rupa, sistem sebagai perangkat-perangkat sosial telah kita arahkan untuk mendukung. Maka sekarang tidak ada kata untuk mundur, sekali layar terkembang, pantanglah kiranya kita bersurut ke belakang.

Seperti perangkat-perangkat sosial lainnya, sistem pendidikan pun kita sudah arahkan. Sekarang kita jauh lebih sadar, pendidikan bukan lagi sebatas untuk menciptakan manusia-manusia yang cerdas otaknya belaka. Pendidikan lebih dari itu, adalah alat untuk mengelolah karakter dan mentalitas seseorang. Maka di era reformasi ini pendidikan sebagai alat, telah bergerak ke kurikulum yang diorganisir untuk menciptakan manusia-manusia siap hidup di dalam sistem yang demokratis.
Kurikulum adalah yang subtansial dari pendidikan. Dialah yang merupakan suprastruktur, pembentuk ide. Maka sudah wajib adanya kalau doktrin pendidikan adalah doktrin tentang demokrasi. Alibinya, meskipun subtansinya adalah doktrin, setidaknya dia berusaha memberi jarak kepada manusia terhadap doktrin itu sendiri. Atau setidak-tidaknya, tidak mengukung manusia dengan doktrin yang super dogmatik.
2 Mei ini adalah saat yang tepat untuk berefleksi tentang dunia pendidikan kita. Satu hal yang sampai saat ini belum kita sentuh sama sekali – teknis dan sederhana memang, namun punya dampak besar – yaitu aturan rambut dan seragam. Aturan ini menciptakan pengalaman buruk dari sebagian kita yang pernah mengecap bangku sekolah. Di sana ada penjajahan yang tidak bisa didefinisikan, namun samar kita rasakan. Kita seolah diatur menjadi sesuatu yang harus, yang tidak membebaskan kita dalam memilih. Ilmu pengetahuan memberi kesempatan manusia berimajinasi seliar-liarnya, dan mengajar manusia berharap pada ketakterbatasan. Namun dengan aturan ini, jelas-jelas bertolak belakang pada sesuatu yang ingin digapai pendidikan.
Pengalaman sekolah yang buruk, menciptakan sejarah penderitaan panjang bagi personalitas kita. Aturan rambut dan pakaian seragam adalah bentuk pemaksaan yang sekaligus beroperasi di alam bawah sadar dan berlangsung terus menerus tanpa disadari. Begitupun dengan daya rusaknya yang juga tak tersadari.
Pemaksaan pada wilayah fisik dalam dunia pendidikan kita menekankan pada suatu kepastian, maka lahirlah kita sebagai pribadi-pribadi yang unekspresif. Manusia-manusia terpaksa, yang melahirkan individu-individu yang kaku, dikarenakan sejak kecilnya tidak dibiarkan mengekspresikan ke-aku-annya. Lewat pembatasan itu, sejarah kehidupan bernegara kita berpotensi membentuk individu menjadi pribadi-pribadi yang tidak utuh sebagai manusia. Sebuah penyimpangan terhadap cita-cita mulia UUD 45.

Militerisme Pendidikan Kontra Demokrasi
Sekilas bila direnungkan, ada unsur militer yang hidup dalam gaya tersebut. Aturan-aturan yang mesti dan mengekang, seolah-olah dengan tidak berlaku itu, kita tidak akan tumbuh menjadi manusia yang berbudi. Pengalaman sekolah adalah pengalaman yang militeristik, maka wajar sahaja bila manusia-manusia Indonesia tumbuh menjadi masyarakat yang cenderung bermentalitas militeristik.
Apakah pengalaman pendidikan yang membebaskan harus ditunggu sampai dibangku kuliah?. Dengan sistemnya yang mendewasakan, apakah kuliah bisa mengatasinya?. Mungkin tidak sepenuhnya, selain karena tidak semua orang berkesempatan mencicipi bangku kuliah, juga karena manusia adalah individu yang hidup dalam sejarahnya. Kita melihat terlalu banyak mahasiswa baru yang gagal beradaptasi terhadap lingkungan pendidikan yang bertikung drastis. Ada banyak diantara mereka, berpegangan kuat pada tradisi lingkungan pendidikan sebelumnya tuk melawan arus perubahan itu. Ada pula terobang-ambing tak jelas, meskipun tidak bisa dipungkiri ada juga yang berhasil menemukan jalan yang gemilang.
Pengalaman masa kecil adalah pengalaman yang urgen bagi individu, dan tidak setiap manusia berhasil melepaskan diri dari ide yang sudah terlanjur mengkristal. Ada banyak manusia yang sudah berakhir pada masa yang sangat mudah, tidak mampu lagi berdialog dengan hal-hal baru dikemudian hari. Bagi mereka yang ini, yang sudah membeku pada usia dini, hal baru selalu ditilik secara apriori. Hal baru sekedar ditelan tuk diolah tuk memperkuat yang sudah ada. Jadi ide demokrasi yang diusung kurikulum kita sekarang mestinya ditunjang dengan pengalaman dalam lingkungan pendidikan yang membebaskan sedari awal.
Baju seragam dan rambut yang pendek, boleh jadi tidak diinginkan. Boleh jadi itu tidak mengekspresikan siapa kita. Atau membatasi diri untuk mengespresikan kedirian kita. Sangat jadi itu tidak mengajari kita untuk berbeda, dan tumbuh menjadi manusia yang tidak bisa hidup dalam lingkungan yang bhineka. Atau individu yang terbiasa disuguhi ini menciptakan manusia-manusia inferior yang tidak punya jiwa kepemimpinan, karena kurangnya pengalaman dalam mengambil keputusan.
Namun diluar sana riuh kita dengarkan, Indonesia adalah negara Bhineka Tunggal Ika. Atau sering kita ucapkan, perbedaan adalah kekayaan. Dan warna itu aneka. Namun kenapa selama 12 tahun kita dipaksa memakai baju putih sahaja. Apakah teriakan pancasila itu sebatas jargon belaka, dan kata itu tinggal kata yang cuma menggetarkan udara. Hambar dan tak pernah menggetarkan hati dan pikiran kita. Manusia Tuhan yang diciptakan dengan keunikannya, apakah petanda rambut pendek dan baju seragam itu adalah simbol perlawanan kita terhadap kenyataan. Entahlah, yang jelas manusia yang mengalami penderitaan panjang akibat pengalaman pendidikan yang menjajah, tidak akan bertumbuh menjadi manusia yang dapat diharapkan untuk mendorong demokratisasi yang kita idamkan.

Kamis, 27 Mei 2010

Televisi dan Ledakan Peradaban

1939, tepatnya 11 mei, untuk pertama kalinya, sebuah pemancar televisi di operasikan di kota berlin, jerman. Dengan demikian dunia mulai berkenalan dengan alat komunikasi secara visual. Di Indonesia, TVRI melakukan siaran percobaan pada 17 Agustus 1962 dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. Lalu 24 Agustus 1962 TVRI mengudara untuk pertama kalinya.

Awalnya, tidak banyak yang sadar – mungkin lebih banyak yang bereforia, bahwa itu adalah titik awal dari sebuah ledakan. Lalu ledakan ini, dengan segala dayanya pun tidak mampu menahan kita untuk mengkritik. Kita mulai bertanya-tanya, benarkah televisi menggiring hidup lebih baik. Keberatan yang umum dari kita adalah, anak-anak dan dewasa menghabiskan banyak waktu di depan televisi ketimbang belajar atau bekerja. Pun dengan kekerasan dan kriminalitas yang meningkat, seks bebas, drugs, dan konsumerisme, semua tanggung jawab itu kita bebankan pada pengaruh buruk TV.

Kalangan yang lebih terpelajar melangkah lebih jauh lagi. Kaum ini mengalamatkan kekhawatirannya pada kecenderungan penyeragaman manusia. Kecenderungan massif yang ditandai dengan makin mengglobalnya nilai-nilai hidup. Televisi jika ditelah mendalam lagi, pun ternyata melahirkan manusia-manusia yang terasing. Manusia yang raib dari dunia mereka sendiri. Manusia yang lupa dan jadi abai dengan persoalan lokal – persoalan rill mereka. Televesi dengan segala dayanya, melahirkan orang-orang yang malas belajar tentang lokalitas mereka, sebagai cara identifikasi dan formulasi penyelesaian persoalan tersebut.

Dalam pandangan lain, televisi juga dianggap sebagai media komunikasi satu arah. Televisi adalah alat yang membuat manusia tumpas jadi murid belaka, dijejali dengan berbagai informasi tanpa sempat mengemukakan pendapat. Tidak ada diskusi, tidak ada dialog, dan manusia-manusia kebanyakan jadi penonton belaka. Namun yang belakangan ini, kekurangannya mungkin telah ditutupi dengan tehnologi internet. Yang dimana, dalam tehnologi ini, setiap orang berhak menjadi guru maupun murid dari peradaban.

Kritik memang seperti gelombang, tubrukan yang tiada habis-habisnya. Semua dialamatkan pada cacat bawaan televisi. Dengan itu televisi belajar, mengurai kritik untuk berkembang ke arah yang lebih dinginkan. Pun dengan mengacu pada persoalan yang sama, kita bisa juga melihat dari perpestif yang sama sekali berlainan. Televisi bisa dilihat sebagai alat manusia untuk melompat. Alat untuk mengatasi keterbatasan manusia akan akses ruang dan waktu. Sadar tidak sadar, manusia dibawa berkelana ke tempat-tempat yang jauh, memuaskan kebutuhan manusia akan keingintahuan. Manusia dibawah ke tempat yang mustahil dijangkau oleh tubuhnya yang terbatas, serta umurnya yang pendek.

Dengan televisi, informasi yang tadinya beku kini saling bertukar. Sekarang fakta bisa dibagi dan ilmu bisa dikembangkan bersama. Orang-orang di benua lain bisa belajar dari realitas orang lain dari benua lain. Peradaban yang dulunya lamban kini berjalan serba cepat. Ilmu pengetahuan merambat dari orang ke orang, dari kerumunan ke kekerumunan, tak peduli, mereka suka baca atau tidak.

Dengan tiadanya televisi, pada tingkat lokal mungkin orang jadi seragam hidupnya. Dengan tidak menonton manusia tidak bisa menciptakan perpestif baru tentang lokalitasnya yang diakibatkan kurangnya pengetahuan serta refrensi dari dunia lain. Bukakankah tiada televisi, berarti orang bisa malas “mempelajari” lokalitasnya, yang boleh jadi disebabkan kurangnya hal-hal baru yang stimulatif dilingkup hidup mereka yang monoton.

Pun dengan televisi pulalah, dengan menangkap citra yang beragam itulah, manusia bisa memperkaya imajinasinya. Lalu kita mungkin tidak lagi dirisaukan dengan keluhan anak-anak di pedalaman berkata, bahwa mimpi pun ditempat mereka sangat terbatas – dibatasi oleh ketidaktahuan mereka. Televisi melahirkan anak-anak yang punya kesempatan menonton, anak-anak yang memperkaya mimpi atau setidaknya mengadopsi dari apa yang mereka saksikan di televisi. Bukankah yang menuntun dan menggerakkan manusia maupun sebuah bangsa adalah mimpi, bukankah dengan bergerak manusia bisa berkembang, atau paling minim bergerak berarti berubah.

Hidup memang terus bergulir dan kenyataan-kenyataan ikut menggelinding. Dan televisi adalah salah satu dari kenyataan itu, kenyataan yang lepas dari busurnya dan tak mungkin dibendung lagi. Dia adalah daya yang bisa dijinakkan namun hampir mustahil tuk dimusnakan. Perjalanan panjangnya telah mewarnai dan diwarnai oleh manusia. Pada akhirnya, kritikan akan membangun, namun menentang keberadaannya akan terdengar seperti orang yang pesimis. Terdengar seperti orang-orang yang mempelajari sejarah dan merindukan suatu masa depan yang sama persis dengan masa lalu.(Nasrul Sani M Toaha)

Kamis, 20 Mei 2010

Seorang Nenek, Cucu, dan Satu Pertanyaan Tentang Kematian

Akhirnya hari itu datang juga, akhirnya ketakutan itu nyata juga. Maka dia terkulai, dia menangis. Ada hari-hari yang entah indah entah tidak, namun jelas pernah dia jalani. Dan karena itu ada kenangan yang hidup, bukan hanya kemarin, tapi bahkan masa setelah hari pengkuburan itu.

Kematian, adakah pantas dia dipikirkan. Bukankah dia merupakan kenyataan yang biasa saja, yang perlangsungannya dialami sejak semesta awal dilahirkan. Kematian, bisakah kita meratapinya meski kita tahu dia niscaya.

Sejak yang renaisans dilahirkan di eropa, manusia memandang peradaban dengan mata rasional. Usaha disegala hal dikontruksi lebih objektif, tapi toh manusia tetap juga menangis. Adakah yang rasional belum sepenuhnya terwujud, dan kita manusia masih berproses terus ke arah sana. Dan apakah ukuran sempurna tidaknya peradaban adalah sampai atau tidaknya kita. Ataukah memang manusia lahir dibekali dengan sikap-sikap irasional yang menjadi potensi dan sekaligus cacat bawaannya.

Cacat?, pantaskah kata itu. Bukankah yang subjektif membuat hidup lebih personal, lebih bisa merasa. Apakah tangis tanda kelemahan, cermin bahwa si manusia belum bisa menyerap ilmu-ilmu modern dalam dirinya. Ataukah tangis hanya berbicara tentang penderitaan belaka, sirat bahwa si jiwa sedan tertekan. Bukankah dalam tangis ada juga kenikmatan, dalam ratapan ada getaran, dan dalam kesedihan terlahir energi. Dan kesemua itu menghidupkan si manusia bersangkutan.

Kematian dalam manusia bukanlah kenyataan biasa tak bergreget. Kematian dalam manusia bukanlah kenyataan biasa yang berlangsung sama pada setiap manusia. Karena selain punya potensi objektif, manusia juga mahluk subjektif. Maka kematian sebagai perpisahan berlangsung lebih personal, lebih intim, dan oleh sebab itu lebih menyedihkan.

Maka lelaki itu menangis, meskipun mungkin sang nenek memang sudah mengimpi mati. Dia bersedih, meskipun rasionalnya dia bahagia. Karena neneknya yang itu, adalah nenek yang renta sudah, dimana tubuh tidak lagi sanggup menyerap kebahagiaan hidup. Tubuh yang tua adalah tubuh neneknya itu, adalah tubuh yang membangkan sudah, tubuh yang tidak lagi patuh. Maka normalnya dia bersuka. Namun toh dia tetap menangis, karena rumitnya kematian melebihi rumitnya kerja otak manusia. Maka seperti Chairil Anwar dia pun mencipta puisi :

Kau yang pergi, menghilang tertanam di bumi.
Adakah bisa bersua di semesta yang lain.
Kau yang renta dan tua sudah, tahu kau mesti kini aku berkabung.
kau yang lapuk sudah, sirnalah kini kau tertanam di bumi.

(Nasrul Sani M Toaha)

Minggu, 02 Mei 2010

Gerilya Goenawan Mohamad Melawan Belenggu

Bagi saya, Goenawan Muhamad atau biasa kita sebut GM adalah individu yang menakjubkan. Kecuali dalam beberapa forum diskusi, memang saya tidak pernah bersentuhan langsung dengannya. Namun saya mengenal dia lewat beberapa karyanya, terutama Catatan Pinggirnya yang mengagumkan. Dalam keindahan bertutur, tulisan-tulisan GM tersebut seperti perangkap, yang secara perlahan-lahan, menjerat pembaca masuk ke dunia ciptaannya, dunia yang sarat kontemplasi.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang lebar tentang kehidupan GM, menurut saya itu sudah final, GM dengan ide-idenya adalah bom yang siap meledak setiap saat. Dia adalah emas bagi generasinya, dan dia pantas dijadikan ikon dalam khazanah pemikiran Indonesia kontemporer. Saya lewat tulisan ini, hanya ingin menghidupkan kembali beberapa karya GM yang dipenakannya antara tahun 1978 sampai 1982, dalam kumpulan tulisannya yang berjudul Catatan Pinggir 1, yang antara lain, “Ketika Koran-koran ditutup 1978 (28 Januari 1978), Seorang Presiden dan Sebuah Sajak (11 feberuari 1978), Konflik (23 Mei 1981) dan Memang Selalu Demikian Hadi (13 Juni 1982). Keinginan saya itu dimulai dari sebuah situasi, situasi politik yang menurut saya relevan untuk membangkitkan kembali tulisan-tulisan ini dari liang lahatnya.

Mimpi tentang demokrasi - yang saya rasa pemicu lahirnya tulisan-tulisan GM - bisa jadi hantu buat kita. Lumrah jika orang ingin jadi GM, namun tidak ada dari kita yang ingin bermimpi seperti GM. Mimpi GM muda memang indah, tapi ibu yang melahirkan kerinduan tersebut, adalah situasi penuh teror. Situasi politik di mana kebebasan berpendapat tidak mempunyai ranah dalam kelamnya sejarah politik Orde Baru.

Demokrasi adalah sesuatu yang ingin kita alami, raba dan jamah. Terlalu suram rasanya jika kita terjerembab dalam lumpur yang sama. Akhir tahun 70-an saat GM menulis artikel yang dia beri judul “Ketika Koran-Koran Ditutup, 1978″, sejatinya memang masa puberitas Orde Baru, era dimana rezim tersebut mengkonsolidasi kekuatannya untuk menterali-besikan kebebasan. Dengan tragis GM menggambarkan situasi zaman itu dengan pembukaan yang miris ” Di setiap masa” kata GM, ” nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tetapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak acuhan. Semua teka-teki”.

Rasanya, dengan membaca paragraf pembuka tersebut, GM membawa kita menjelajah ke tempat yang paling suram, jauh dari hiruk-pikuk manusia, di mana kesunyian jadi mesin pembunuh paling efektif, yang tanpa kita sadari, lambat-laun menghancurkan kemanusian kita. Rasanya, demokrasi memang seksi, paling tidak di mata GM dan dalam kondisi keterbelengguan.

GM tidak rela, dia protes. Suatu kondisi damai yang coba dibangun penguasa dia tampik. Karena GM tahu, kedamain seperti itu justru mengandung kanker. Lalu dia menulis, masih dalam artikel yang sama ” ketika republik ini didirikan, iapun tidak dimaksudkan untuk hanya berupa hutan, laut dan pulau-pulau tropis yang membisu. Tertib, tentram, aman dan makmur memang suatu cita-cita. Tapi sebuah negeri harus selalu siap dengan kenyataan-kenyataan. Bahkan kenyataan-kenyataan yang terkadang Nampak semrawut itu barangkali mengandung hikmah”.

Orang boleh mendebat, apa sebenarnya maksud dari penolakan GM, atau apa sebenarnya sumber daya tolak “sesuatu” itu. Yang jelas, kata GM, ” Ia bukan semata-mata senjata. Barangkali ia adalah sesuatu kenyataan yang sederhana saja. Kenyataan itu, yang tumbuh dari keaneka-ragaman Indonesia, yang menyebabkan Pancasila lahir, menuding : tidak ada suatu kekuatan pun yang bisa memonopoli Indonesia”.

Jika konflik adalah risiko bagi kebhinekaan, dan kebhinekaan adalah risiko bagi berdirinya Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Maka menurut yang tersirat dari tulisan GM muda, demokrasi adalah jawaban. Sampai batas ini, konflik bukan lagi kenyataan, bahkan tidat tepat jika disebut risiko, tapi lebih dari itu, konflik sudah bermetamorfosis jadi sesuatu yang dibutuhkan. Dia adalah bahan bakar, roda penggerak masyarakat.

Dalam tulisannya, saya melihat GM menganggap konflik dalam demokrasi adalah roh, nyawa pembawa kemajuan. Seperti tulisnya ” seseorang pernah mengatakan, bahwa demokrasi pada dasarnya adalah management of conflicts. Tekanan tentu saja diletakkan pada kata “konflik”, bukan pada kata “manajemen”. Sebab sistem politik apapun selalu berniat mengelolah segala hal yang timbul dalam hidup bersama, termasuk pertikaian. Namun hanya demokrasi yang mengakui bahwa konflik adalah bagian dari kita, biarpun kita di satu lubuk, biarpun kita di satu kandang “.

Gerilya GM melawan keterbelengguan, kembali ia tegaskan dalam sikapnya terhadap totaliatarianisme, bagi GM totalitarianisme tak punya pengakuan terhadap perbedaan pendapat.” Di sana individu adalah dosa asal” kata GM “berbeda merupakan bid’ah dan konflik adalah satu-satunya penunggang kuda Apokalipsa, pembawa malapetaka”. Dengan cermat GM menggambarkan ” Di lautan massa Maois, di kancah Pengawal Merah, siapa yang tak pandai mengutip kata-kata Mao dengan tepat berarti bukan kita, melainkan mereka. Psikologi totalitarianisme berbicara, bahwa siapa saja yang tak bersama kita adalah musuh kita “.

Ketakutan GM nampaknya bergetar disetiap tulisannya. Sepertinya GM tidak rela, Indonesia terperosok ke jurang yang sama dengan Cina. Pada tahun-tahun itu, berkali-kali GM mengulas tentang Cina. Mao dari sisi yang mengagumkan memang kerap tampil dalam tulisan-tulisan GM, namun jarang sekali dia berbicara sisi positif dari sistem politik diyakini Mao yang panik. Dan ulas GM “ management of conflict itu? Pada saat kita mempersepsikan konflik sebagai semacam setan, jin, pageblug. Wabah, gempa bumi, angin ribut, atau black magic yang diam-diam menikam, kita pun tak berbicara tentang manajemen. Demokrasi kadang mati karena panik”.

Kekuasaan memang mengandung lupa. Dia membawa dosa asal. Carter yang mencoba menafsirkan sebaris puisi Dylan Thomash, pernah berkata ” bagi saya, itu berarti bahwa seorang yang kuat dengan daya terobos yang kokoh terhadap sebuah bangsa…. Dapat bersifat tak sensitif (kepada perasaan orang lain). “Terpisahnya kekuasaan dari rakyat” katanya pula ” kadang tidak diketahui pemimpin yang kuat. Dan sifat tidak peka, yang memang sudah terkandung dalam tiap kekuasaan, seharusnya merupakan peringatan bagi kita.

Melihat keadaan sekarang ini, ketika etika berpendapat mulai dipersoalkan, tentu mengandung gusar. Adakah ini benih bagi suatu permulaan. Adakah kita akan bernasib sama seperti GM muda yang merindukan kebebasan. Agaknya, meskipun reformasi baru seumur jagung, perjuangan mulai dikhianati, sadar tidak sadar. Kegalauan kita itu - yang juga terekam dalam puisi Taufiq Ismail yang dia tulis pada 1966, ketika apa yang di sebut Orde Lama sedang ditumbangkan ” Setiap perjuangan selalu melahirkan sejumlah penghianat dan para penjilat… Setiap perjuangan menghadapkan kita pada kaum yang bimbang…. Setiap perjuangan yang akan menang selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian, dan para jagoan kesiangan” - mulai menjakiti lagi. Agaknya, dalam setiap sejarah, hal-hal macam itu selalu akan berulang, seperti pesan Taufiq Ismail kepada kita, “jangan kau gusar, memang demikian halnya”

” Agaknya” kata GM ” Meskipun, sebenarnya penghianatan kepada perjuangan tidak selalu begitu cepat dan begitu jelas seperti ketika pada puncak sengitnya pertempuran, seorang kawan kita lari ke pihak lawan karena dibeli. Dalam kasus semacam itu, warna-warna segera nyata dan tegas: hitam, putih, atau kuning. Tapi memang selalu demikian yang selalu terjadi - ialah penghianatan dalam proses yang lebih pelan. Yakni ketika asap peperangan telah kalis dan musuh telah kalah”

Ketika kita memutar waktu dan kembali ke zaman kita, tampak ada persamaan kabur antara apa yang dilawan GM juga Taufiq Ismail, dengan apa yang kita hadapi sekarang. Aneh memang, namun itulah kenyataan. Kita harus selalu siap berperang melawan lupa - lupa yang memang terkandung di setiap kekuasaan dan di setiap masa menang. 1 juni 1945, ketika pidato pertama tentang Pancasila diucapkan, Bung Karno juga berkata tentang hal itu: ” tidak ada satu Negara boleh dikatakan hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan dikira Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira di Negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah Subhanahuwata’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan sehari-hari, kita selalu bergosok…”.

Agaknya sulit mewujudkan demokrasi - butuh perjuangan, namun, jika kita konsisten dengan reformasi, perlu rasanya kita menginternalisasikan apa yang pernah diucapkan Jimmy Carter tentang demokrasi ” kapasitas manusia untuk berbuat adil menyebabkan demokrasi mungkin, kapasitas manusia untuk sewenang-wenang menyebabkan demokrasi perlu “. ( Nasrul Sani M Toaha )