Salju turun, tipis dan tajam, seperti pecahan kaca yang dilempar angin. Nama gadis itu Elara. Dia duduk di sudut bar, di bangku yang dilapisi kulit usang, menghadap ke pintu. Dia tidak minum. Tidak ada minuman yang bisa memperbaiki apa yang dia rasakan. Hanya ada kopi hitam, pahit, dan terlalu panas untuk dipegang.
Malam itu adalah malam di mana keputusannya menjadi sesuatu yang fisik, sesuatu yang harus dia selesaikan, seperti melunasi utang yang sudah lama menumpuk. Dia tahu apa yang dia inginkan. Dia tidak mencarinya karena cinta, atau karena drama. Itu adalah sebuah transaksi. Sebuah pemutusan.
Pria-pria datang dan pergi. Mereka semua terlihat sama di bawah cahaya lampu neon yang berkedip: lelah, basah, dan penuh harapan bodoh. Elara menatap mereka tanpa ekspresi. Dia menunggu.
Seorang pria, tinggi dan kurus dengan mantel basah, akhirnya duduk dua bangku darinya. Dia memesan double whisky. Dia tidak terlihat tertarik padanya. Itu bagus. Ketertarikan akan membuat segalanya menjadi rumit.
Elara menunggu sampai dia menyelesaikan tegukan pertamanya. Lalu, tanpa mengubah ekspresi wajahnya, dia berbicara. Suaranya rendah dan datar, seperti permukaan danau yang membeku.
“Anda punya waktu?” tanya Elara.
Pria itu berbalik perlahan. Matanya keruh dan tidak banyak bertanya. Dia memandang Elara, bukan dengan nafsu, tetapi dengan kebosanan yang sama seperti saat dia memandang gelas wiski.
“Waktu adalah semua yang saya miliki,” jawab pria itu.
“Saya mencari penyelesaian,” kata Elara. Dia meletakkan cangkir kopinya. Uap panas yang tersisa tidak menjanjikan kehangatan.
Pria itu mengangguk, seolah dia sudah sering mendengar kalimat semacam itu. “Dan apa yang perlu diselesaikan?”
“Sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang,” jelas Elara. Dia tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak perlu. Mereka berdua tahu.
“Harga?” tanya pria itu, langsung. Dia tidak merayu. Dia tidak berpura-pura. Dia memperlakukan ini sebagai sebuah bisnis, dan itu yang paling disukai Elara.
“Tidak ada harga. Hanya waktu Anda,” balas Elara.
Pria itu menyeringai kecil, senyum yang tidak sampai ke mata. “Itu adalah harga yang paling mahal. Tapi saya terima.”
Dia menghabiskan wiskinya dalam satu tegukan yang cepat dan menyakitkan. Lalu dia berdiri.
“Mari kita selesaikan,” katanya, suaranya sudah berubah menjadi monoton, sudah melupakan mengapa dia duduk di bar ini sejak awal.
Elara berdiri tanpa tergesa-gesa. Mantelnya tebal, tapi dinginnya bar sudah meresap sampai ke tulang.
“Di luar sangat dingin,” kata pria itu saat mereka berjalan menuju pintu.
“Saya tahu,” jawab Elara. “Saya tidak peduli dengan cuaca.”
Mereka melangkah keluar ke jalanan yang gelap. Salju terus turun. Itu terasa seperti memotong-motong udara menjadi pecahan-pecahan yang kecil dan tajam. Ini akan selesai. Dan besok, dia akan bangun tanpa itu, tanpa hal yang memberatkan dan memuakkan itu. Dia akan bebas, dan dingin, seperti malam ini. Itulah satu-satunya hal yang penting.
************
Elara dan pria itu, yang dia tidak repot-repot menanyakan namanya, berjalan tanpa berkata-kata. Pria itu berjalan sedikit di depan, langkahnya mantap, seolah dia sudah menentukan tujuan, meskipun tujuannya hanyalah kamar sewaan murahan di gang sebelah. Itu adalah sebuah bangunan bata merah kusam yang menjulang di antara toko roti yang tutup dan kedai minuman keras.
Mereka menaiki tangga kayu yang berderit. Setiap langkah adalah pengumuman, sebuah pengakuan yang mereka berdua tolak untuk dengarkan. Lantai di atas terasa lebih dingin daripada di jalan. Udara di lorong itu tebal dengan bau debu, rokok basi, dan keputusasaan yang tidak diakui.
Pria itu membuka kunci pintu. Bukan kunci yang bagus. Murahan. Dia menyalakan lampu gantung tunggal di langit-langit yang rendah. Lampunya kuning, berkedip, dan tidak menjanjikan kehangatan, hanya sekadar penerangan yang wajib. Ruangan itu kecil. Sebuah ranjang, meja kecil, dan wastafel kotor di sudut. Tidak ada yang lain. Tidak ada gambar, tidak ada buku, tidak ada identitas. Itu sempurna. Sebuah tempat untuk menyelesaikan transaksi.
Elara berdiri di ambang pintu. Dia tidak bergerak masuk. Dia melihat sekeliling, mencatat ketidakberadaan hal-hal. Ketidakadaan harapan.
Pria itu melepas mantelnya yang basah. Dia menggantungnya di punggung kursi.
“Dingin di sini,” katanya, sebuah pernyataan fakta, bukan keluhan.
“Tidak ada yang peduli,” balas Elara.
Dia tidak memandangnya. Dia memandang ke luar jendela, di mana pantulan cahaya kuning dari kamar itu memudar di kaca yang kotor. Salju masih turun, tampak lebih tebal sekarang, seperti selimut putih yang siap mengubur kota.
“Anda tidak perlu ragu,” kata pria itu. Suaranya kosong, seperti air yang mengalir di saluran pembuangan.
Elara menoleh ke arahnya. “Saya tidak ragu. Keraguan tidak ada gunanya. Itu hanya membuang waktu.”
Dia berjalan masuk. Dia tidak mendekati ranjang. Dia berdiri di tengah ruangan. Dia tidak melepas mantelnya. Dia tidak memberinya apa-apa selain kehadirannya yang dingin.
Pria itu berjalan mendekat. Dia tidak mencoba menyentuhnya. Dia tidak mengatakan hal-hal bodoh. Dia hanya menatap matanya. Mata Elara gelap dan datar, seperti air sumur tua. Dia mencari sesuatu di sana, dan dia tahu dia tidak akan menemukannya.
“Ini adalah sebuah penarikan. Bukan pertukaran,” kata Elara.
“Saya mengerti,” jawabnya. “Saya hanyalah alat. Sebuah pisau untuk memotong tali.”
Dia tidak bergerak maju lagi. Dia menunggu. Itu adalah hal yang paling jujur yang bisa dia lakukan. Memberinya kendali terakhir atas momen ini.
Elara menghela napas, hampir tak terdengar. Bukan desahan kelegaan atau kepuasan. Lebih seperti suara yang dikeluarkan oleh mesin yang sudah terlalu lama bekerja.
“Tidak perlu bicara lagi,” katanya. “Selesaikan saja.”
Dia melepas satu kancing mantelnya. Lalu kancing berikutnya. Gerakannya lambat, mekanis, seperti menghitung uang receh. Dia tidak terburu-buru. Waktu tidak penting. Yang penting adalah penyelesaian.
Pria itu berdiri diam, tangannya di sisi tubuhnya. Dia adalah sebuah siluet di bawah cahaya kuning yang bergetar. Dia tidak lagi menjadi seorang pria. Dia adalah sebuah fungsi, sebuah pekerjaan, sebuah penghapusan.
Saat Elara menjatuhkan mantelnya ke lantai yang dingin, pria itu akhirnya bergerak. Tidak ada kelembutan. Tidak ada janji. Hanya tindakan. Itu adalah urusan yang cepat dan sunyi. Kedua-duanya sama-sama absen dari momen tersebut. Mereka ada di sana, di dalam ruangan kecil yang bau itu, tetapi bagian penting dari diri mereka telah menarik diri, menunggu di sudut.
Setelah selesai, pria itu bergerak menjauh darinya, kembali ke tempat dia berdiri sebelumnya, di dekat kursi tempat mantelnya tergantung. Itu adalah jarak yang tepat. Jarak yang disyaratkan oleh kehormatan yang tidak mereka miliki.
Elara bangkit dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya kembali dengan cara yang sama seperti dia melepaskannya: perlahan, teliti, tanpa emosi. Dia tidak melihat ke arah ranjang. Dia tidak melihat ke arah pria itu. Dia melihat tangannya saat dia mengancingkan kembali mantelnya.
“Sudah selesai,” kata pria itu.
“Ya,” jawab Elara. Nada suaranya tidak berubah. Tidak ada rasa lega, tidak ada rasa jijik, tidak ada kemenangan. Hanya sebuah pengakuan sederhana bahwa sebuah peristiwa telah berakhir.
Dia mengambil cangkir kopi dingin dari sakunya—dia lupa meletakkannya di bar—dan menyentuhnya. Dingin.
“Terima kasih,” katanya, tetapi itu terdengar seperti ‘Selamat tinggal’ yang diucapkan dengan kelelahan.
Pria itu mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak menawarkan rokok, tidak menawarkan minuman, tidak menawarkan nama. Dia sudah selesai dengan fungsinya.
Elara berjalan ke pintu. Dia tidak melihat ke belakang. Dia menarik pintu hingga terbuka. Bau udara dingin langsung menyambutnya. Itu segar, tajam, dan membersihkan bau pengap di dalam ruangan.
Dia melangkah keluar. Dia menuruni tangga kayu yang sama, sekarang tanpa beban yang dia bawa saat naik. Dia berada di jalanan lagi. Salju telah berhenti. Kota itu sekarang diam, diselimuti putih yang bersih.
Elara berjalan di bawah cahaya bulan yang dingin. Dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan sesuatu. Dan dia merasa kosong. Tidak sakit, tidak bahagia. Hanya kosong.
Dia tahu. Itu adalah kebebasan yang dia beli. Dan seperti semua kebebasan yang pantas, rasanya tidak seperti yang dia bayangkan. Itu hanya dingin. Dan itu sudah cukup.
***************
Elara berjalan kaki menembus kota. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Tidak ada taksi yang lalu-lalang dan dia tidak mencarinya. Dia ingin merasakan dinginnya udara pagi. Dinginnya itu nyata. Itu bagus.
Dia tiba di apartemennya sebelum fajar menyingsing sepenuhnya. Bangunan itu adalah deretan beton abu-abu yang menjemukan, berdiri tegak dan jujur di bawah langit yang mulai cerah. Pintu masuknya berat, terbuat dari baja, dan tidak ramah.
Dia menaiki tiga lantai menuju unitnya. Kunci kuningan itu terasa dingin di tangannya. Dia membukanya, masuk, dan menutupnya dengan pelan. Tidak ada bunyi ‘klik’ yang memuaskan. Hanya keheningan.
Apartemennya kecil. Bersih. Tidak ada yang berantakan. Tidak ada yang menandakan kehidupan yang berapi-api. Meja, dua kursi, tempat tidur yang dibuat rapi, dan sebuah jendela yang menghadap ke dinding bata lain. Itu adalah ruangan untuk bertahan hidup, bukan untuk tinggal.
Hal pertama yang dia lakukan adalah mandi. Dia memutar keran air panas sekuat mungkin, tetapi airnya hanya mencapai suhu suam-suam kuku. Dia berdiri di bawah semprotan itu, membiarkan uap tipis menempel di kaca. Dia menggosok kulitnya dengan sabun batang murah yang tidak berbau. Dia tidak mencoba membersihkan apa pun yang terjadi semalam; dia hanya menghilangkan bau kota dan bau kamar sewaan itu.
Saat dia melihat dirinya di cermin yang berembun, dia tidak melihat perbedaan. Elara tetaplah Elara. Garis rahang yang tajam. Mata yang sama, gelap dan tanpa pertanyaan. Sesuatu telah pergi, ya, tetapi kekosongan itu hanya digantikan oleh kekosongan yang lain. Ini hanyalah pergantian inventaris.
Dia mengenakan pakaian kerjanya: blus putih bersih dan rok pensil abu-abu. Pakaian yang tidak menarik perhatian, yang menyamarkan tubuh menjadi bentuk yang efisien.
Di dapur kecilnya, dia membuat kopi. Kali ini dia membuatnya lebih pekat, lebih hitam. Dia duduk di salah satu kursi, menghadap ke dinding, dan memegang cangkir itu dengan kedua tangannya. Panasnya mencapai telapak tangannya, tetapi tidak menjangkau ke dalam.
Dia memeriksa jam tangannya. Jam 06.15 pagi. Masih ada waktu satu jam lima belas menit sebelum dia harus meninggalkan tempat ini menuju kantor akuntan tempat dia bekerja.
Dia tidak membaca surat kabar. Dia tidak menyalakan radio. Dia tidak memikirkan pria itu. Memikirkannya akan memberinya terlalu banyak substansi. Pria itu hanyalah sebuah peristiwa, sebuah titik pada garis lurus.
Dia mulai menghitung. Bukan angka di kantor. Dia menghitung kancing di blusnya—tujuh. Dia menghitung jumlah ubin lantai yang terlihat dari tempatnya duduk—sembilan belas. Dia menghitung berapa kali dia menarik napas dalam satu menit. Itu adalah cara untuk mengendalikan sesuatu, apa pun, di dunia yang tidak bisa dia kendalikan.
Keputusan untuk menyelesaikan 'urusan' semalam seharusnya memberinya ledakan, sebuah pembebasan. Seharusnya ada kembang api, atau setidaknya air mata. Namun yang ada hanyalah ketenangan datar yang sama. Dia telah meremehkan betapa sunyi dan sepinya kehidupan itu sendiri. Perawan atau bukan perawan, dinginnya dunia tetap sama.
Saat kopi pertamanya habis, dia menuang yang kedua. Dia menatap cangkirnya, memperhatikan pantulan kabur dari lampu dapur.
Tiba-tiba, dia merasakan sensasi asing. Bukan emosi, tetapi sensasi fisik, seperti ada kerikil yang berpindah tempat di dalam perutnya. Dia telah menutup satu bab. Itu sudah selesai. Dia telah melakukan apa yang dia pikir perlu dilakukan untuk melewati ambang batas tertentu.
Namun, yang dia temukan di sisi lain hanyalah ambang batas yang lain, yang sama kosongnya.
"Selesai," bisik Elara ke cangkirnya yang panas.
Dia berdiri. Saatnya untuk bekerja. Dia mengambil tasnya, tas kulit hitam yang usang yang hanya berisi dompet dan pena. Dia memadamkan lampu.
Saat dia berjalan keluar, melangkah di atas salju yang sudah mulai kotor karena lalu lintas pagi, dia adalah pegawai kantor yang kembali dari akhir pekan yang sunyi.
Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan. Tidak ada yang perlu tahu. Itu adalah urusannya. Dia telah membayar utangnya kepada masa lalu. Sekarang dia bisa melanjutkannya, sama kosongnya, sama-sama dingin.
Dia sampai di halte bus. Bus datang, besar dan penuh dengan orang-orang yang lelah. Dia naik, berdiri di bagian belakang, dan memandang ke luar jendela ke arah kota yang membangunkan dirinya sendiri dengan suara klakson dan derit rem.
Dia tahu satu hal. Sesuatu telah berubah, bukan di dalam dirinya, tetapi dalam pengetahuannya tentang dunia. Dia sekarang tahu bahwa melakukan hal-hal tidak membawa kehangatan. Hanya ada dingin, dan dia harus bekerja dengannya.
Ini adalah kehidupan lamanya. Dan itu tidak berbeda dari malam yang baru saja berakhir. Itu hanyalah sebuah transaksi yang harus dia selesaikan setiap hari.
**************
Seminggu berlalu, Elara kembali ke bar itu. Dia berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Dia mengenakan mantel wol yang sama, tetapi kali ini kancingnya tertutup rapat sampai ke leher. Dia tidak merasakan angin. Dia telah melatih tubuhnya untuk menerima dingin sebagai fakta, bukan sebagai gangguan. Dia tidak mencari hiburan. Hiburan adalah untuk orang-orang yang merasa ada yang kurang dalam hidup mereka. Elara tidak merasa kurang. Dia merasa tepat.
Dia mendorong pintu bar. Lonceng di atas pintu berbunyi, sebuah denting tunggal yang terdengar lelah. Udara di dalam bar tebal. Baunya seperti campuran tembakau tua, lantai kayu yang lembap, dan bir yang tumpah bertahun-tahun lalu. Itu adalah bau kejujuran. Tidak ada parfum yang mencoba menutupi kenyataan di sini.
Bar itu hampir kosong. Hanya ada dua orang tua di ujung ruangan, berbicara dalam bahasa yang terdengar seperti gerutuan mesin yang rusak. Bartender, seorang pria gemuk dengan celemek yang tidak lagi putih, sedang mengelap gelas dengan kain yang meragukan. Dia tidak menatap Elara saat dia masuk.
Elara memilih tempat duduk. Bangku yang sama. Sudut yang sama. Kulit bangku itu retak di sana-sini, memperlihatkan busa kuning di bawahnya. Dia menyukai retakan itu. Itu membuktikan bahwa bangku itu telah bertahan lama.
Bartender itu akhirnya datang, menyeret kakinya.
"Kopi," kata Elara. "Hitam. Panas."
"Kami punya bir bagus," gumam bartender itu, tanpa niat menjual.
"Kopi."
Bartender itu pergi. Dia kembali sesaat kemudian dengan cangkir tebal yang retak di bibirnya. Cairan di dalamnya gelap dan uapnya naik lurus ke atas, tidak terganggu oleh angin apa pun.
Elara meletakkan kedua tangannya di sekeliling cangkir itu. Dia tidak meminumnya. Dia hanya memegang panasnya, memastikan saraf-saraf di ujung jarinya masih berfungsi. Dia melihat ke pintu. Dia tidak menunggu. Menunggu menyiratkan harapan. Dia hanya mengamati. Dia adalah seorang auditor yang kembali ke lokasi audit untuk memastikan catatannya benar.
Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka lagi. Angin dingin menyelinap masuk, menyapu lantai sebelum pintu tertutup kembali.
Lelaki itu masuk.
Dia terlihat sama. Mantelnya panjang, basah di bagian bahu karena salju yang mulai turun lagi. Wajahnya kasar, seolah dipahat dari batu kapur dengan pahat yang tumpul. Dia tidak melihat ke sekeliling. Dia tahu persis ke mana dia akan pergi. Dia berjalan ke bar, meletakkan tangannya yang besar di atas meja kayu yang dipoles oleh siku ribuan pemabuk.
"Seperti biasa," katanya. Suaranya berat, seperti suara pintu besi yang digeser. "Double whisky."
Elara memperhatikan punggung lelaki itu. Punggung itu lebar dan sedikit membungkuk, bukan karena usia, tapi karena beban gravitasi yang dia terima begitu saja.
Lelaki itu menerima gelasnya. Cairan amber itu berkilau di bawah lampu neon yang suram. Dia tidak meminumnya. Dia memutar gelasnya, membuat es batu di dalamnya beradu. Kling. Kling. Suara itu tajam di ruangan yang sunyi.
Lelaki itu berbalik. Dia bersandar pada bar, menghadap ke ruangan. Matanya menyapu ruangan, melewati kursi-kursi kosong, melewati dua orang tua di ujung, dan berhenti pada Elara.
Tidak ada kejutan di wajahnya. Tidak ada senyum. Tidak ada kerutan di dahi. Dia hanya menatap, seolah Elara adalah bagian dari perabot yang mungkin telah dipindahkan sedikit, tetapi tetap pada tempatnya.
Dia mengambil gelasnya dan berjalan perlahan. Langkah kakinya berat di lantai kayu. Dia berhenti di depan meja Elara.
"Kursi ini kosong?" tanyanya.
"Selalu kosong," jawab Elara.
Lelaki itu duduk. Dia meletakkan gelas double whisky-nya di atas meja, tepat di sebelah cangkir kopi Elara. Kontrasnya jelas: hitam pekat dan emas transparan. Panas dan dingin.
"Kau kembali," kata lelaki itu. Dia tidak menatap Elara; dia menatap gelasnya sendiri.
"Aku punya waktu luang," jawab Elara. "Dan kopi di sini lumayan."
"Kopinya buruk," koreksi lelaki itu. "Rasanya seperti tanah yang dibakar. Tapi panas. Itu satu-satunya kelebihannya."
"Itu cukup untukku."
Lelaki itu menyesap minumannya. Dia memejamkan mata sejenak saat alkohol itu membakar tenggorokannya. Itu adalah satu-satunya tanda emosi yang dia tunjukkan—reaksi fisik terhadap stimulus kimia.
"Kebanyakan orang tidak kembali ke tempat kejadian perkara," kata lelaki itu setelah meletakkan gelasnya. "Terutama jika perkaranya adalah sesuatu yang ingin mereka buang."
"Aku tidak membuang apa-apa," bantah Elara dengan tenang. "Aku menyelesaikan transaksi. Ketika kau membayar tagihan, kau tidak membenci kasirnya. Kau hanya menyimpan struknya dan pergi."
Lelaki itu tertawa kecil. Itu bukan tawa yang menyenangkan. Itu suara kering, seperti daun kering yang diinjak.
"Transaksi," ulangnya. Dia memutar es di gelasnya lagi. "Kau bicara seperti kau terbuat dari kalkulator dan tinta."
"Memangnya kita terbuat dari apa lagi?" tanya Elara. "Daging? Darah? Itu hanya kemasan. Isinya adalah hitungan. Untung dan rugi. Masuk dan keluar."
Lelaki itu menatap Elara sekarang. Tatapannya tajam, menyelidik. Dia mencari retakan di wajah Elara, mencari tanda penyesalan, atau rasa malu, atau setidaknya sedikit kelembutan.
"Malam itu," kata lelaki itu, suaranya merendah. "Itu bukan tentang nafsu untukmu."
"Bukan."
"Dan itu bukan tentang cinta."
"Jelas bukan."
"Itu tentang... pembersihan," simpul lelaki itu.
"Itu tentang menghapus baris yang tidak perlu dalam pembukuan," kata Elara. Dia mengangkat cangkirnya dan meminum kopinya. Pahit. Dia menyukainya. "Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang ajaib tentang hal itu. Semua orang bilang itu mengubah hidup. Novel, film, lagu. Mereka semua berbohong."
"Mereka dibayar untuk berbohong," kata lelaki itu. "Jika mereka mengatakan yang sebenarnya—bahwa itu hanya gesekan dan keringat dan kemudian selesai—tidak ada yang akan membeli tiket bioskop."
"Tepat," kata Elara. "Aku kembali ke sini malam ini untuk memastikan satu hal."
"Memastikan apa?"
"Memastikan bahwa aku tidak merasakan apa-apa saat melihatmu."
Lelaki itu terdiam. Dia tidak tersinggung. Di dunia mereka, ketersinggungan adalah kemewahan yang tidak berguna. Dia justru tampak tertarik, seperti seorang ilmuwan yang mengamati spesimen langka.
"Dan?" tanya lelaki itu. "Bagaimana hasilnya? Apakah jantungmu berdebar? Apakah kau merasa jijik? Apakah kau merasa rindu?"
Elara menatap mata lelaki itu. Mata itu berwarna abu-abu, keruh, seperti langit di luar jendela. Dia memeriksa ke dalam dirinya sendiri, memindai setiap organ, setiap saraf.
"Tidak," katanya. "Kosong. Sama seperti melihat kursi itu."
Lelaki itu mengangguk perlahan. Dia mengangkat gelasnya ke arah Elara, sebuah bersulang tanpa suara.
"Selamat," katanya. "Kau sudah lulus. Kau sekarang resmi menjadi warga kota ini. Dingin, keras, dan tidak bisa dilukai."
"Apakah itu hal yang baik?" tanya Elara. Untuk pertama kalinya, ada sedikit nada ingin tahu dalam suaranya. Bukan keraguan, hanya pertanyaan akademis.
"Itu bukan hal yang baik atau buruk," jawab lelaki itu. Dia menghabiskan separuh dari double whisky-nya dalam satu tegukan besar. "Itu adalah baju zirah. Baju zirah itu berat. Kau tidak bisa berlari cepat saat memakainya. Kau tidak bisa merasakan sentuhan lembut saat memakainya. Tapi baju zirah itu menjagamu tetap hidup saat orang lain hancur."
Elara merenungkan kata-kata itu. Dia membayangkan dirinya mengenakan baju zirah besi. Berat, ya. Tapi aman. Tidak ada yang bisa masuk. Tidak ada yang bisa mengambil apa pun lagi darinya.
"Aku bisa hidup dengan itu," kata Elara.
"Kita semua bisa," kata lelaki itu. "Itu sebabnya kita ada di bar ini pada hari Minggu malam, minum cairan yang membakar dan cairan yang pahit. Karena kita sedang memoles baju zirah kita."
Lelaki itu mengeluarkan bungkus rokok dari saku jaketnya. Dia menawarkannya pada Elara. Elara menggeleng. Lelaki itu mengambil satu, menyalakannya dengan korek api yang berbau belerang. Asap biru mengepul, naik ke atas, dan menghilang di antara bayangan langit-langit.
"Siapa namamu?" tanya lelaki itu tiba-tiba. Pertanyaan itu datang terlambat, seperti catatan kaki di akhir buku yang panjang.
Elara ragu sejenak. Memberikan nama terasa seperti memberikan sesuatu yang nyata, sesuatu yang berharga. Tapi kemudian dia sadar, nama hanyalah label. Label tidak mengubah isi botol.
"Elara," katanya.
Lelaki itu mengangguk, menghembuskan asap rokok ke samping.
"Fritz," katanya.
Hanya itu. Tidak ada jabat tangan. Tidak ada senyum ramah. Nama-nama itu jatuh ke meja di antara mereka, berbaring di sana seperti dua koin asing yang tidak bisa dibelanjakan.
"Elara," ulang Fritz pelan, seolah menguji rasa kata itu di lidahnya. "Nama yang bagus. Terdengar seperti nama bintang. Bintang yang jauh dan dingin."
"Fritz," balas Elara. "Terdengar seperti suara mesin yang berhenti bekerja."
Fritz tertawa lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Kau benar. Mesin yang berhenti bekerja. Itu deskripsi yang akurat."
Dia menghabiskan sisa double whisky-nya. Es batu di gelasnya sekarang sudah mencair, meninggalkan air tawar yang bercampur dengan sisa alkohol.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Elara?" tanyanya. "Kau sudah memastikan bahwa kau kosong. Kau sudah memastikan bahwa aku hanyalah mesin yang rusak. Lalu apa?"
"Aku akan bangun besok," kata Elara. "Aku akan pergi ke kantor. Aku akan menyeimbangkan neraca. Dan aku akan makan siang sendirian. Dan aku akan melakukannya lagi lusa."
"Rencana yang solid," kata Fritz. "Tanpa kejutan."
"Tanpa kejutan."
Mereka terdiam.
Di luar, salju turun semakin lebat. Angin melemparkan butiran-butiran putih itu ke kaca jendela, mencoba masuk, mencoba membekukan mereka. Tapi mereka sudah beku. Mereka sudah aman.
Fritz tidak memesan minuman lagi. Elara tidak menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin.
Mereka hanya duduk di sana.
Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kata-kata hanya akan mengotori keheningan yang sempurna itu. Keheningan itu adalah sebuah persetujuan. Sebuah pakta tak tertulis antara dua orang yang telah melihat ke dalam jurang kekosongan dan memutuskan untuk membangun rumah di sana.
Elara menatap ke depan. Fritz menatap gelas kosongnya.
Waktu berjalan di sekitar mereka, detik demi detik, tapi di meja itu, waktu seolah berhenti. Mereka duduk dalam keheningan, dua patung di dalam kuil kesepian, tenang dan tak tersentuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar