Dia tumbuh di sebuah desa kecil di sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, di mana orang-orang bekerja keras dan berbicara seperlunya. Ayahnya seorang guru SD, ibunya ibu rumah tangga. Dari kecil, ia diajarkan satu hal: kerja keras adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanmu dari kehancuran. Tak ada ruang untuk keluhan, tak ada tempat untuk alasan.
Ketika ia masih kecil, ia pernah menangis saat kehilangan pertandingan ping-pong. Ayahnya hanya menatapnya, diam. Tak ada pelukan, tak ada kata-kata penghiburan. Hanya pandangan mata yang mengatakan, "Tangis tak akan mengubah hasilnya. Terima dan hadapi."
Itu adalah pelajaran pertama dalam hidupnya, dan itu bertahan sepanjang hidupnya.
Dua puluh lima tahun kemudian, dia duduk di atas motornya, menatap papan nama perusahaan tempat ia bekerja selama tujuh tahun terakhir. Sebuah perusahaan konstruksi yang dulu memberinya harapan. Sekarang, setelah tujuh tahun kerja keras, ia tahu bahwa harapan adalah ilusi.
Dia baru saja keluar dari ruang rapat, tempat bosnya, seorang pria dengan jas mahal dan senyum palsu, memberitahunya bahwa mereka harus "melakukan restrukturisasi." Itu hanya cara halus untuk mengatakan bahwa ia dipecat. Tak ada pesangon, tak ada kesempatan kedua. Hanya kata-kata manis yang diucapkan dengan nada kosong.
Dia menyalakan motor, keluar dari tempat parkir, dan mengendarai tanpa tujuan. Jalanan Jakarta terasa lebih panjang malam itu. Cahaya lampu jalan jatuh ke aspal berdebu seperti bayangan yang bergerak lambat. Kepalanya penuh dengan suara-suara: suara bosnya, suara rekan-rekannya yang tak berani menatapnya, suara ayahnya yang berkata, "Kau tak boleh hancur hanya karena satu pukulan."
Dia pulang ke kontrakannya yang kecil di pinggiran kota. Dulu ia membayangkan memiliki rumah sendiri, dengan halaman kecil dan teras untuk menikmati udara pagi. Tapi hidup tak berjalan sesuai rencana.
Ia membuka kulkas. Kosong. Hanya ada sepotong roti dan sisa kopi dingin. Ia mengambil roti itu, duduk di kursi, menyalakan televisi tanpa suara. Malam berjalan lambat. Ia berpikir untuk menghubungi seseorang, siapa saja. Tapi siapa yang peduli? Semua orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Tak ada yang ingin mendengar cerita tentang pria yang gagal.
Ia meneguk kopi dinginnya, lalu menatap ke luar jendela. Di luar, ada dua orang yang tampak seperti mahasiswa. Mereka berjalan, tertawa, berbicara tentang hal-hal yang tampak begitu ringan, begitu jauh dari hidup yang sekarang ia jalani.
"Mereka belum tahu," pikirnya. "Belum tahu seperti apa dunia yang sebenarnya."
Dua minggu berlalu. Dia mencari pekerjaan. Tak ada jawaban dari lamaran-lamarannya. Pengalamannya tak cukup mengesankan, gelarnya tak cukup tinggi, dan dunia tak memberi tempat bagi mereka yang tak punya sesuatu yang luar biasa.
Ia tak mengeluh. Ia tak marah. Ia hanya menerima. Ini adalah bagian dari hidup. Ayahnya pernah berkata, "Kehidupan ini seperti badai. Jika kau cukup kuat, kau akan berdiri kembali. Jika tidak, kau akan hanyut."
Ia mengambil pekerjaan serabutan. Menjadi buruh harian di sebuah proyek bangunan. Tangannya yang dulu memegang laporan dan peta kini kembali pada batu bata dan semen. Ia tak keberatan. Ia tak merasa malu. Kerja adalah kerja.
Saat istirahat, para pekerja lain berbicara tentang mandor mereka, tentang politik, tentang wanita. Dia diam. Ia tak butuh banyak kata-kata. Ia hanya butuh kerja.
Malamnya, ia pulang dengan tubuh lelah. Tangannya penuh dengan luka kecil, ototnya terasa nyeri. Ia melihat dirinya di cermin. Mata yang sama, wajah yang sama. Hanya sedikit lebih tua, sedikit lebih lelah.
Ia tidak menyesal.
Suatu malam, saat ia sedang duduk di kafe kecil di ujung jalan, seorang pria mendekatinya. Seorang rekan lama dari perusahaan lamanya. Pria itu mengenakan pakaian mahal, jam tangan berkilau di pergelangannya.
"Aku dengar kau keluar dari perusahaan itu. Sayang sekali, pria sepertimu seharusnya bisa lebih jauh."
Dia hanya tersenyum kecil. "Hidup berjalan seperti itu."
Pria itu menatapnya, sedikit bingung dengan ketenangannya. "Aku bisa membantumu. Aku kenal seseorang yang bisa memberimu pekerjaan di perusahaan lain. Gajinya lebih kecil, tapi itu lebih baik daripada bekerja di proyek bangunan."
Dia menatap pria itu, lalu meneguk kopinya pelan. "Aku baik-baik saja."
"Ayolah. Kau pria yang baik. Seharusnya kau tak menghabiskan hidupmu seperti ini."
Dia tersenyum. "Kau tahu apa yang kupelajari selama ini? Bahwa pekerjaan tak mendefinisikan siapa kita. Kekalahan juga tidak. Yang mendefinisikan kita adalah bagaimana kita berdiri setelah itu."
Pria itu terdiam. Ia tak bisa memahami dia. Dunia yang ia kenal penuh dengan orang-orang yang takut kehilangan, yang berjuang mati-matian untuk sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar mereka inginkan.
Dia bangkit, meletakkan uang di meja, dan melangkah keluar. Udara malam terasa dingin, tapi ia tak merasa kedinginan. Ia menyalakan rokok, berjalan perlahan di trotoar.
Hidup tidak berakhir hanya karena satu kegagalan.
Di suatu tempat di belakang kepalanya, suara ayahnya bergema lagi. "Tangis tak akan mengubah hasilnya. Terima dan hadapi."
Ia tersenyum kecil.
Ia akan baik-baik saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar