Absennya seseorang dari hiruk-pikuk media sosial bukan melulu soal rasa tidak aman (insecurity) atau gaptek. Sering kali, itu adalah pilihan sadar yang didorong oleh kematangan emosional dan prioritas hidup yang berbeda. Berikut adalah penjabaran mendalam mengenai alasan psikologis mengapa seseorang memilih menjadi "pengamat sunyi" di media sosial.
1. Menemukan Kebahagiaan dalam "JOMO" (Joy of Missing Out)
Berbeda dengan FOMO (Fear of Missing Out), mereka yang jarang posting telah memeluk JOMO. Mereka tidak merasa perlu membuktikan kepada dunia bahwa hidup mereka seru. Mereka menikmati momen saat ini tanpa terdistraksi oleh keinginan untuk mencari angle foto terbaik atau memikirkan caption yang estetik. Bagi mereka, memori terbaik disimpan di dalam hati dan ingatan, bukan di feed Instagram.
2. Validasi Internal Lebih Kuat daripada Validasi Eksternal
Salah satu pendorong utama orang rajin posting adalah dopamin yang didapat dari likes dan komentar. Seseorang yang jarang posting biasanya memiliki self-esteem yang stabil. Mereka tidak membutuhkan pengakuan orang lain ("Wah, kamu hebat!", "Wah, kamu cantik!") untuk merasa berharga. Rasa percaya diri mereka tumbuh dari pencapaian nyata dan kepuasan batin, bukan dari jumlah notifikasi.
3. Menjaga Privasi sebagai Sebuah Kemewahan
Di dunia yang serba terbuka, privasi adalah komoditas yang mahal. Semakin dewasa seseorang, semakin mereka menyadari bahaya oversharing. Mereka memilih untuk melindungi orang-orang yang mereka cintai, data pribadi, dan kehidupan profesional mereka dari konsumsi publik. Mereka paham bahwa tidak semua orang di internet mendoakan hal baik, dan menjaga misteri justru memberikan rasa aman.
4. Menghindari Jebakan Perbandingan (Comparison Trap)
Media sosial adalah panggung sandiwara di mana orang hanya menampilkan sisi terbaik (dan seringkali palsu) dari hidup mereka. Mereka yang jarang posting sering kali sadar bahwa berpartisipasi aktif dalam panggung ini hanya akan memicu siklus perbandingan yang tidak sehat. Dengan menarik diri, mereka menjaga kesehatan mental dari rasa iri atau perasaan "kurang" saat melihat pencapaian orang lain.
5. Mengalami "Social Media Fatigue" (Kelelahan Digital)
Ini adalah alasan tambahan yang sangat relevan saat ini. Otak manusia tidak didesain untuk memproses ribuan informasi, berita buruk, dan opini orang lain setiap hari. Seseorang mungkin jarang posting karena mereka lelah secara mental. Mereka merasa muak dengan drama netizen, algoritma yang menuntut, dan kepalsuan dunia maya, sehingga memilih untuk "puasa" posting demi ketenangan jiwa.
6. Fokus pada Koneksi Nyata (Real Life Connection)
Bagi sebagian orang, media sosial terasa dangkal. Mereka lebih memilih menghabiskan energi untuk membangun hubungan yang mendalam di dunia nyata. Daripada membalas komentar dari orang asing, mereka lebih memilih menelepon sahabat, mengobrol tatap muka dengan pasangan, atau bermain dengan anak tanpa gawai di tangan. Kualitas hubungan menjadi prioritas di atas kuantitas pengikut.
7. Menjaga Profesionalitas dan Jejak Digital
Alasan ini bersifat strategis. Banyak profesional muda atau pejabat publik yang sangat berhati-hati dalam memposting. Mereka sadar bahwa jejak digital bersifat abadi. Satu postingan emosional atau foto pesta yang kurang pantas bisa menghancurkan karir yang dibangun bertahun-tahun. Diam di media sosial adalah langkah preventif untuk menjaga reputasi profesional.
8. Sibuk Membangun Kehidupan Nyata
Alasan paling sederhana namun paling valid: mereka benar-benar sibuk. Orang yang sedang fokus mengejar karir, membangun bisnis, atau mengurus keluarga sering kali tidak memiliki waktu luang untuk mengedit foto atau membuat konten. Bagi mereka, waktu adalah aset berharga yang lebih baik diinvestasikan untuk produktivitas daripada sekadar eksistensi maya.
Kesimpulan
Jarang posting di media sosial bukanlah tanda kesepian atau kehidupan yang membosankan. Justru sebaliknya, itu bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang sibuk menikmati hidupnya, menjaga kesehatan mentalnya, dan menghargai setiap detik yang berjalan di dunia nyata. Jadi, jika temanmu jarang terlihat di timeline, jangan buru-buru menghakimi—mungkin mereka sedang menjalani hidup terbaiknya di luar layar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar