Jumat, 05 Desember 2025

Paradoks Hukum Negara: Mengapa Tanda Tangan Presiden Tetap Sah Meski (Andai) Ijazahnya Bermasalah?

 



 
Dalam diskursus hukum tata negara, kita sering kali dihadapkan pada satu pertanyaan hipotetis yang menggelitik sekaligus mengerikan: Apa yang terjadi jika seorang Presiden, yang telah menjabat bertahun-tahun, ternyata terbukti memalsukan dokumen prasyaratnya (misalnya ijazah) saat mendaftar ke KPU?

 

Logika awam kita pasti berteriak: "Batalkan! Dia tidak sah, maka semua keputusannya harus dianggap tidak pernah ada." Itu adalah logika keadilan moral. Namun, logika Hukum Administrasi Negara—sebagaimana tertuang dalam UU No. 30 Tahun 2014—bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Hukum negara tidak dirancang untuk memuaskan dendam moral, melainkan untuk menjaga stabilitas dan keberlangsungan hidup sebuah bangsa.


Berikut adalah konsekuensi hukum jika skenario "cacat administrasi" itu benar-benar terjadi, khususnya terhadap kontrak dan kebijakan negara.


1. Benturan Antara Kebenaran Materiil dan Kepastian Hukum
 

Mari kita berandai-andai sejenak. Jika hari ini pengadilan memutuskan bahwa ijazah Presiden Jokowi tidak sah, apakah otomatis seluruh masa jabatannya terhapus? Jawabannya: Tidak.


Di sinilah letak asas Rechtszekerheid atau Asas Kepastian Hukum (Pasal 10 UU No. 30/2014). Dalam hukum publik, sebuah Surat Keputusan (SK) pelantikan pejabat negara yang sudah dikeluarkan secara sah, final, dan telah menimbulkan akibat hukum, tidak bisa ditarik mundur (non-retroaktif).


Negara tidak bisa berkata, "Maaf, 10 tahun terakhir ini kita anggap tidak pernah terjadi." Mengapa? Karena jabatan "Presiden" adalah institusi. Ketika Jokowi menandatangani undang-undang atau kontrak, ia bertindak sebagai representasi institusi kepresidenan, bukan sebagai pribadi. Cacat pada pribadi (personal defect) tidak serta merta menghancurkan institusi yang sedang ditungganginya.


2. Nasib Kontrak Internasional dan Utang Negara. 


Poin paling krusial dalam kekhawatiran publik adalah soal kontrak. Selama menjabat, Presiden telah menandatangani ribuan keputusan: utang luar negeri, kontrak pertambangan dengan asing, perjanjian bilateral, hingga pengesahan undang-undang strategis.
 

Jika ijazahnya palsu, apakah kontrak itu batal demi hukum?
Berdasarkan Pasal 40 dan Pasal 53 UU Administrasi Pemerintahan, keputusan yang sudah menimbulkan akibat hukum yang luas dan melibatkan pihak ketiga (masyarakat atau negara lain) tidak boleh dibatalkan.
 

Bayangkan jika kontrak kereta cepat, kontrak blok migas, atau surat utang negara (SBN) tiba-tiba dinyatakan tidak sah.

  • Pertama: Indonesia akan digugat di arbitrase internasional. Investor dan negara asing tidak peduli dengan urusan internal administrasi ijazah kita. Mereka memegang kontrak yang ditandatangani oleh "Presiden Republik Indonesia" yang sah secara de jure saat itu.
  • Kedua: Jika dibatalkan, negara akan bangkrut karena harus membayar ganti rugi (wanprestasi) yang nilainya ribuan triliun rupiah.
  • Ketiga: Kekacauan ekonomi (chaos) akan terjadi karena ketidakpastian hukum. Mata uang Rupiah bisa hancur karena dunia tidak lagi percaya pada tanda tangan pejabat Indonesia.

Hukum melindungi "kepentingan umum" di atas "kesalahan prosedur individu". Itulah sebabnya konsekuensinya bukan pembatalan kebijakan, melainkan sanksi kepada individunya.


3. Pejabat yang Dilantik dan Kebijakan Publik. 


Efek domino lainnya adalah pada pejabat yang diangkat oleh Presiden. Menteri, Kapolri, Panglima TNI, hingga Hakim Agung diangkat melalui Keppres. Jika pelantikan Presiden dianggap tidak sah sejak awal (batal demi hukum), secara logika awam, maka semua pejabat yang diangkatnya juga ilegal.
 

Namun, Pasal 38 UU AP mengunci hal ini. Keputusan yang sudah final mengikat pejabat dan masyarakat. Kita tidak bisa membatalkan vonis hakim hanya karena hakim itu dilantik oleh Presiden yang ijazahnya bermasalah. Kita tidak bisa membatalkan operasi militer yang diperintahkan Panglima TNI hanya karena SK Panglimanya diteken oleh Presiden tersebut.


Sistem hukum kita menganut prinsip bahwa tindakan faktual pemerintah yang sudah berjalan dan dinikmati publik harus dianggap sah (asas presumption of validity atau vermoeden van rechtmatigheid), sampai ada pengadilan yang membatalkannya—dan pembatalan itu pun hanya berlaku ke depan (prospektif), bukan ke belakang.


4. Solusi Hukum: Pidana untuk Orangnya, Selamatkan Negaranya. 


Lantas, apakah ini berarti pemalsuan ijazah dimaafkan? Tentu tidak. Keadilan tetap harus ditegakkan, tetapi jalurnya dipisahkan:


 1. Jalur Pidana (Personal):

Jika terbukti memalsukan, individu yang bersangkutan (misal: Jokowi) harus diproses hukum pidana atas tindak pemalsuan dokumen. Ia bisa dipenjara dan dicabut hak politiknya.


 2. Jalur Administrasi (Institusional):

Keputusan-keputusan kenegaraan yang ia buat selama menjabat tetap dianggap sah demi menjaga stabilitas negara. Negara tidak boleh runtuh hanya karena satu orang berbohong.

 

Kesimpulan

Opini ini membawa kita pada realitas pahit namun penting dalam bernegara: Stabilitas negara sering kali lebih mahal harganya daripada koreksi administratif.


Jika pun syarat administrasi Presiden terbukti cacat di kemudian hari, tembok tebal UU Administrasi Pemerintahan akan melindungi produk hukum yang telah ia buat. Kontrak tetap jalan, undang-undang tetap berlaku, dan utang tetap harus dibayar.
 

​Kita bisa menghukum orangnya, memenjarakan fisiknya, tetapi kita tidak bisa memutar balik waktu dan menghapus jejak tanda tangannya dari lembaran sejarah negara. Itulah harga mati dari sebuah kepastian hukum di negara modern.

 

Kasus Komparatif, Bagaimana Negara Lain Menangani Pejabat "Tidak Sah"?

​Jika kita merasa bahwa prinsip mempertahankan keputusan pejabat yang cacat administrasi adalah sesuatu yang aneh atau tidak adil, kita perlu melihat keluar. Di seluruh dunia, prinsip hukum yang dikenal sebagai "The De Facto Officer Doctrine" (Doktrin Pejabat De Facto) berlaku.

​Doktrin ini menyatakan: Tindakan yang dilakukan oleh pejabat yang memegang jabatan di bawah 'warna kewenangan' (color of authority) adalah sah bagi publik dan pihak ketiga, meskipun di kemudian hari ditemukan bahwa pejabat tersebut sebenarnya tidak memenuhi syarat atau pengangkatannya cacat.

​Mari kita lihat bagaimana prinsip ini bekerja dalam kasus nyata di negara lain:

1. Australia: Krisis Kewarganegaraan Parlemen (2017)

​Ini adalah contoh yang paling relevan dengan kasus administrasi (seperti ijazah).

​Pada tahun 2017, Australia diguncang skandal di mana Wakil Perdana Menteri Barnaby Joyce dan beberapa senator lainnya ternyata memegang kewarganegaraan ganda (dual citizenship). Padahal, Konstitusi Australia (Section 44) melarang keras warga negara ganda menjadi anggota parlemen. Secara teknis, pemilihan mereka tidak sah sejak awal.

Apa yang terjadi?

Mahkamah Tinggi Australia mendiskualifikasi mereka. Barnaby Joyce harus mundur. Namun, pertanyaan besarnya muncul: Bagaimana dengan ratusan undang-undang dan keputusan menteri yang ikut mereka putuskan/teken selama mereka menjabat secara "ilegal"?

Putusan Hukum:

Hukum Australia memutuskan bahwa semua keputusan dan suara (voting) yang mereka berikan di parlemen sebelum mereka didiskualifikasi tetap sah. Negara tidak membatalkan undang-undang yang disahkan dengan bantuan suara mereka. Mengapa? Karena jika dibatalkan, sistem hukum Australia akan runtuh (chaos), dan ribuan kebijakan publik akan menjadi ilegal dalam semalam.

Pelajaran: Cacat syarat pencalonan (kewarganegaraan) mendepak orangnya, tapi tidak menghapus tanda tangannya.

2. Thailand: Pemecatan PM Yingluck Shinawatra (2014)

​Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, dilengserkan oleh Mahkamah Konstitusi bukan karena korupsi uang, melainkan karena penyalahgunaan wewenang administrasi (memindahkan kepala keamanan nasional secara ilegal).

Apa yang terjadi?

MK Thailand menyatakan statusnya sebagai PM berakhir saat itu juga. Namun, MK tidak membatalkan perjanjian dagang atau kebijakan beras (rice subsidy scheme) yang ia tanda tangani selama menjabat sebelum putusan keluar.

​Kebijakan subsidi beras itu memang kemudian dipermasalahkan secara pidana (karena merugikan negara), dan Yingluck dituntut secara pribadi. Namun, kontrak-kontrak yang sudah berjalan dengan petani dan pihak ketiga tetap harus diselesaikan oleh negara (pemerintahan selanjutnya). Negara tidak bisa lari dari kewajiban bayar hanya karena PM-nya divonis bersalah.

3. Amerika Serikat: Doktrin yang Melindungi Publik

​Amerika Serikat sangat ketat memegang De Facto Officer Doctrine. Ada banyak kasus di tingkat negara bagian di mana hakim atau pejabat kota ternyata terpilih melalui proses yang curang atau tidak memenuhi syarat domisili.

​Ketika pejabat itu dipecat, pengadilan AS secara konsisten memutuskan: Vonis yang diketok oleh hakim tersebut di masa lalu tidak otomatis batal.

​Logikanya sederhana: Masyarakat yang mencari keadilan tidak boleh dihukum atas kesalahan administrasi negara dalam melantik hakim. Jika semua vonis dibatalkan, ribuan penjahat harus dilepas atau diadili ulang, yang akan mematikan sistem peradilan.

Relevansi dengan Kasus Kita:

Jika ijazah Jokowi bermasalah, maka logika AS ini berlaku: Rakyat Indonesia dan investor asing (pihak ketiga) yang beritikad baik tidak boleh dirugikan atas kelalaian KPU (negara) dalam memverifikasi syarat calon di masa lalu.

4. Ukraina: Transisi Yanukovych (2014)

​Presiden Viktor Yanukovych digulingkan (impeached secara de facto) karena dianggap mengkhianati konstitusi dan lari ke Rusia. Pemerintahan baru yang sangat anti-Yanukovych mengambil alih.

​Meskipun pemerintahan baru menganggap rezim Yanukovych korup dan cacat moral, mereka tetap terikat pada "Eurobonds" (surat utang) senilai $3 Miliar yang ditandatangani Yanukovych dengan Rusia.

​Meskipun Ukraina mencoba menolak membayar dengan alasan utang itu adalah "suap politik" untuk Yanukovych, pengadilan internasional (seperti Pengadilan Tinggi di London) cenderung melihat aspek formalitas: Apakah yang bertanda tangan saat itu Presiden yang diakui? Jika ya, maka utang itu mengikat negara, bukan pribadi Yanukovych.

Kesimpulan Komparatif

​Dari Canberra hingga Kiev, benang merahnya sama: Pemisahan antara Pejabat (Person) dan Jabatan (Office).

​Dalam konteks isu ijazah Presiden di Indonesia, jika kita menuntut agar "semua kontrak dan UU dibatalkan", kita justru meminta Indonesia menjadi negara barbar yang tidak mengenal standar hukum internasional.

​Dunia memegang prinsip:

  1. Hukum Orangnya: Jika memalsukan syarat, penjarakan dia, denda dia, cabut hak politiknya seumur hidup.
  2. Lindungi Negaranya: Jangan biarkan kesalahan satu orang menghancurkan kepastian hukum bagi 270 juta rakyat dan komunitas internasional.

​Jadi, narasi bahwa "Ijazah Palsu = Negara Batal" adalah narasi emosional yang berbahaya. Sebaliknya, narasi "Ijazah Palsu = Penjarakan Pelaku, Lanjutkan Negara" adalah narasi akal sehat yang berbasis pada aturan main negara modern.



Di Balik Kesunyian: Mengupas Alasan Psikologis Mengapa Seseorang Memilih Jarang Posting di Media Sosial

 

 
Di era di mana "makan belum sah kalau belum difoto" dan setiap detik kehidupan didokumentasikan dalam Instagram Story, mereka yang jarang memposting sesuatu sering kali dianggap aneh, misterius, atau bahkan disalahartikan sedang mengalami masalah hidup. Padahal, realitasnya sering kali berbanding terbalik.

Absennya seseorang dari hiruk-pikuk media sosial bukan melulu soal rasa tidak aman (insecurity) atau gaptek. Sering kali, itu adalah pilihan sadar yang didorong oleh kematangan emosional dan prioritas hidup yang berbeda. Berikut adalah penjabaran mendalam mengenai alasan psikologis mengapa seseorang memilih menjadi "pengamat sunyi" di media sosial.

1. Menemukan Kebahagiaan dalam "JOMO" (Joy of Missing Out)

Berbeda dengan FOMO (Fear of Missing Out), mereka yang jarang posting telah memeluk JOMO. Mereka tidak merasa perlu membuktikan kepada dunia bahwa hidup mereka seru. Mereka menikmati momen saat ini tanpa terdistraksi oleh keinginan untuk mencari angle foto terbaik atau memikirkan caption yang estetik. Bagi mereka, memori terbaik disimpan di dalam hati dan ingatan, bukan di feed Instagram.

2. Validasi Internal Lebih Kuat daripada Validasi Eksternal

Salah satu pendorong utama orang rajin posting adalah dopamin yang didapat dari likes dan komentar. Seseorang yang jarang posting biasanya memiliki self-esteem yang stabil. Mereka tidak membutuhkan pengakuan orang lain ("Wah, kamu hebat!", "Wah, kamu cantik!") untuk merasa berharga. Rasa percaya diri mereka tumbuh dari pencapaian nyata dan kepuasan batin, bukan dari jumlah notifikasi.

3. Menjaga Privasi sebagai Sebuah Kemewahan

Di dunia yang serba terbuka, privasi adalah komoditas yang mahal. Semakin dewasa seseorang, semakin mereka menyadari bahaya oversharing. Mereka memilih untuk melindungi orang-orang yang mereka cintai, data pribadi, dan kehidupan profesional mereka dari konsumsi publik. Mereka paham bahwa tidak semua orang di internet mendoakan hal baik, dan menjaga misteri justru memberikan rasa aman.

4. Menghindari Jebakan Perbandingan (Comparison Trap)

Media sosial adalah panggung sandiwara di mana orang hanya menampilkan sisi terbaik (dan seringkali palsu) dari hidup mereka. Mereka yang jarang posting sering kali sadar bahwa berpartisipasi aktif dalam panggung ini hanya akan memicu siklus perbandingan yang tidak sehat. Dengan menarik diri, mereka menjaga kesehatan mental dari rasa iri atau perasaan "kurang" saat melihat pencapaian orang lain.

5. Mengalami "Social Media Fatigue" (Kelelahan Digital)

Ini adalah alasan tambahan yang sangat relevan saat ini. Otak manusia tidak didesain untuk memproses ribuan informasi, berita buruk, dan opini orang lain setiap hari. Seseorang mungkin jarang posting karena mereka lelah secara mental. Mereka merasa muak dengan drama netizen, algoritma yang menuntut, dan kepalsuan dunia maya, sehingga memilih untuk "puasa" posting demi ketenangan jiwa.

6. Fokus pada Koneksi Nyata (Real Life Connection)

Bagi sebagian orang, media sosial terasa dangkal. Mereka lebih memilih menghabiskan energi untuk membangun hubungan yang mendalam di dunia nyata. Daripada membalas komentar dari orang asing, mereka lebih memilih menelepon sahabat, mengobrol tatap muka dengan pasangan, atau bermain dengan anak tanpa gawai di tangan. Kualitas hubungan menjadi prioritas di atas kuantitas pengikut.

7. Menjaga Profesionalitas dan Jejak Digital

Alasan ini bersifat strategis. Banyak profesional muda atau pejabat publik yang sangat berhati-hati dalam memposting. Mereka sadar bahwa jejak digital bersifat abadi. Satu postingan emosional atau foto pesta yang kurang pantas bisa menghancurkan karir yang dibangun bertahun-tahun. Diam di media sosial adalah langkah preventif untuk menjaga reputasi profesional.

8. Sibuk Membangun Kehidupan Nyata

Alasan paling sederhana namun paling valid: mereka benar-benar sibuk. Orang yang sedang fokus mengejar karir, membangun bisnis, atau mengurus keluarga sering kali tidak memiliki waktu luang untuk mengedit foto atau membuat konten. Bagi mereka, waktu adalah aset berharga yang lebih baik diinvestasikan untuk produktivitas daripada sekadar eksistensi maya.

Kesimpulan

Jarang posting di media sosial bukanlah tanda kesepian atau kehidupan yang membosankan. Justru sebaliknya, itu bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang sibuk menikmati hidupnya, menjaga kesehatan mentalnya, dan menghargai setiap detik yang berjalan di dunia nyata. Jadi, jika temanmu jarang terlihat di timeline, jangan buru-buru menghakimi—mungkin mereka sedang menjalani hidup terbaiknya di luar layar.


Rabu, 03 Desember 2025

MEREKA YANG BERDIRI DITENGAH BADAI


Dia tumbuh di sebuah desa kecil di sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, di mana orang-orang bekerja keras dan berbicara seperlunya. Ayahnya seorang guru SD, ibunya ibu rumah tangga. Dari kecil, ia diajarkan satu hal: kerja keras adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanmu dari kehancuran. Tak ada ruang untuk keluhan, tak ada tempat untuk alasan.

Ketika ia masih kecil, ia pernah menangis saat kehilangan pertandingan ping-pong. Ayahnya hanya menatapnya, diam. Tak ada pelukan, tak ada kata-kata penghiburan. Hanya pandangan mata yang mengatakan, "Tangis tak akan mengubah hasilnya. Terima dan hadapi."

Itu adalah pelajaran pertama dalam hidupnya, dan itu bertahan sepanjang hidupnya.

Dua puluh lima tahun kemudian, dia duduk di atas motornya, menatap papan nama perusahaan tempat ia bekerja selama tujuh tahun terakhir. Sebuah perusahaan konstruksi yang dulu memberinya harapan. Sekarang, setelah tujuh tahun kerja keras, ia tahu bahwa harapan adalah ilusi.

Dia baru saja keluar dari ruang rapat, tempat bosnya, seorang pria dengan jas mahal dan senyum palsu, memberitahunya bahwa mereka harus "melakukan restrukturisasi." Itu hanya cara halus untuk mengatakan bahwa ia dipecat. Tak ada pesangon, tak ada kesempatan kedua. Hanya kata-kata manis yang diucapkan dengan nada kosong.

Dia menyalakan motor, keluar dari tempat parkir, dan mengendarai tanpa tujuan. Jalanan Jakarta terasa lebih panjang malam itu. Cahaya lampu jalan jatuh ke aspal berdebu seperti bayangan yang bergerak lambat. Kepalanya penuh dengan suara-suara: suara bosnya, suara rekan-rekannya yang tak berani menatapnya, suara ayahnya yang berkata, "Kau tak boleh hancur hanya karena satu pukulan."

Dia pulang ke kontrakannya yang kecil di pinggiran kota. Dulu ia membayangkan memiliki rumah sendiri, dengan halaman kecil dan teras untuk menikmati udara pagi. Tapi hidup tak berjalan sesuai rencana.

Ia membuka kulkas. Kosong. Hanya ada sepotong roti dan sisa kopi dingin. Ia mengambil roti itu, duduk di kursi, menyalakan televisi tanpa suara. Malam berjalan lambat. Ia berpikir untuk menghubungi seseorang, siapa saja. Tapi siapa yang peduli? Semua orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Tak ada yang ingin mendengar cerita tentang pria yang gagal.

Ia meneguk kopi dinginnya, lalu menatap ke luar jendela. Di luar, ada dua orang yang tampak seperti mahasiswa. Mereka berjalan, tertawa, berbicara tentang hal-hal yang tampak begitu ringan, begitu jauh dari hidup yang sekarang ia jalani.

"Mereka belum tahu," pikirnya. "Belum tahu seperti apa dunia yang sebenarnya."

Dua minggu berlalu. Dia mencari pekerjaan. Tak ada jawaban dari lamaran-lamarannya. Pengalamannya tak cukup mengesankan, gelarnya tak cukup tinggi, dan dunia tak memberi tempat bagi mereka yang tak punya sesuatu yang luar biasa.

Ia tak mengeluh. Ia tak marah. Ia hanya menerima. Ini adalah bagian dari hidup. Ayahnya pernah berkata, "Kehidupan ini seperti badai. Jika kau cukup kuat, kau akan berdiri kembali. Jika tidak, kau akan hanyut."

Ia mengambil pekerjaan serabutan. Menjadi buruh harian di sebuah proyek bangunan. Tangannya yang dulu memegang laporan dan peta kini kembali pada batu bata dan semen. Ia tak keberatan. Ia tak merasa malu. Kerja adalah kerja.

Saat istirahat, para pekerja lain berbicara tentang mandor mereka, tentang politik, tentang wanita. Dia diam. Ia tak butuh banyak kata-kata. Ia hanya butuh kerja.

Malamnya, ia pulang dengan tubuh lelah. Tangannya penuh dengan luka kecil, ototnya terasa nyeri. Ia melihat dirinya di cermin. Mata yang sama, wajah yang sama. Hanya sedikit lebih tua, sedikit lebih lelah.

Ia tidak menyesal.

Suatu malam, saat ia sedang duduk di kafe kecil di ujung jalan, seorang pria mendekatinya. Seorang rekan lama dari perusahaan lamanya. Pria itu mengenakan pakaian mahal, jam tangan berkilau di pergelangannya.

"Aku dengar kau keluar dari perusahaan itu. Sayang sekali, pria sepertimu seharusnya bisa lebih jauh."

Dia hanya tersenyum kecil. "Hidup berjalan seperti itu."

Pria itu menatapnya, sedikit bingung dengan ketenangannya. "Aku bisa membantumu. Aku kenal seseorang yang bisa memberimu pekerjaan di perusahaan lain. Gajinya lebih kecil, tapi itu lebih baik daripada bekerja di proyek bangunan."

Dia menatap pria itu, lalu meneguk kopinya pelan. "Aku baik-baik saja."

"Ayolah. Kau pria yang baik. Seharusnya kau tak menghabiskan hidupmu seperti ini."

Dia tersenyum. "Kau tahu apa yang kupelajari selama ini? Bahwa pekerjaan tak mendefinisikan siapa kita. Kekalahan juga tidak. Yang mendefinisikan kita adalah bagaimana kita berdiri setelah itu."

Pria itu terdiam. Ia tak bisa memahami dia. Dunia yang ia kenal penuh dengan orang-orang yang takut kehilangan, yang berjuang mati-matian untuk sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar mereka inginkan.

Dia bangkit, meletakkan uang di meja, dan melangkah keluar. Udara malam terasa dingin, tapi ia tak merasa kedinginan. Ia menyalakan rokok, berjalan perlahan di trotoar.

Hidup tidak berakhir hanya karena satu kegagalan.

Di suatu tempat di belakang kepalanya, suara ayahnya bergema lagi. "Tangis tak akan mengubah hasilnya. Terima dan hadapi."

Ia tersenyum kecil.

Ia akan baik-baik saja.

KOPI HITAM & DOUBLE WHiSKY


Salju turun, tipis dan tajam, seperti pecahan kaca yang dilempar angin. Nama gadis itu Elara. Dia duduk di sudut bar, di bangku yang dilapisi kulit usang, menghadap ke pintu. Dia tidak minum. Tidak ada minuman yang bisa memperbaiki apa yang dia rasakan. Hanya ada kopi hitam, pahit, dan terlalu panas untuk dipegang.
 
Malam itu adalah malam di mana keputusannya menjadi sesuatu yang fisik, sesuatu yang harus dia selesaikan, seperti melunasi utang yang sudah lama menumpuk. Dia tahu apa yang dia inginkan. Dia tidak mencarinya karena cinta, atau karena drama. Itu adalah sebuah transaksi. Sebuah pemutusan.
 
Pria-pria datang dan pergi. Mereka semua terlihat sama di bawah cahaya lampu neon yang berkedip: lelah, basah, dan penuh harapan bodoh. Elara menatap mereka tanpa ekspresi. Dia menunggu.
 
Seorang pria, tinggi dan kurus dengan mantel basah, akhirnya duduk dua bangku darinya. Dia memesan double whisky. Dia tidak terlihat tertarik padanya. Itu bagus. Ketertarikan akan membuat segalanya menjadi rumit.
 
Elara menunggu sampai dia menyelesaikan tegukan pertamanya. Lalu, tanpa mengubah ekspresi wajahnya, dia berbicara. Suaranya rendah dan datar, seperti permukaan danau yang membeku.
 
“Anda punya waktu?” tanya Elara.
 
Pria itu berbalik perlahan. Matanya keruh dan tidak banyak bertanya. Dia memandang Elara, bukan dengan nafsu, tetapi dengan kebosanan yang sama seperti saat dia memandang gelas wiski.
 
“Waktu adalah semua yang saya miliki,” jawab pria itu.
 
“Saya mencari penyelesaian,” kata Elara. Dia meletakkan cangkir kopinya. Uap panas yang tersisa tidak menjanjikan kehangatan.
 
Pria itu mengangguk, seolah dia sudah sering mendengar kalimat semacam itu. “Dan apa yang perlu diselesaikan?”
 
“Sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang,” jelas Elara. Dia tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak perlu. Mereka berdua tahu.
 
“Harga?” tanya pria itu, langsung. Dia tidak merayu. Dia tidak berpura-pura. Dia memperlakukan ini sebagai sebuah bisnis, dan itu yang paling disukai Elara.
 
“Tidak ada harga. Hanya waktu Anda,” balas Elara.
 
Pria itu menyeringai kecil, senyum yang tidak sampai ke mata. “Itu adalah harga yang paling mahal. Tapi saya terima.”
 
Dia menghabiskan wiskinya dalam satu tegukan yang cepat dan menyakitkan. Lalu dia berdiri.
 
“Mari kita selesaikan,” katanya, suaranya sudah berubah menjadi monoton, sudah melupakan mengapa dia duduk di bar ini sejak awal.
 
Elara berdiri tanpa tergesa-gesa. Mantelnya tebal, tapi dinginnya bar sudah meresap sampai ke tulang.
 
“Di luar sangat dingin,” kata pria itu saat mereka berjalan menuju pintu.
 
“Saya tahu,” jawab Elara. “Saya tidak peduli dengan cuaca.”
 
Mereka melangkah keluar ke jalanan yang gelap. Salju terus turun. Itu terasa seperti memotong-motong udara menjadi pecahan-pecahan yang kecil dan tajam. Ini akan selesai. Dan besok, dia akan bangun tanpa itu, tanpa hal yang memberatkan dan memuakkan itu. Dia akan bebas, dan dingin, seperti malam ini. Itulah satu-satunya hal yang penting.

              ************

Elara dan pria itu, yang dia tidak repot-repot menanyakan namanya, berjalan tanpa berkata-kata. Pria itu berjalan sedikit di depan, langkahnya mantap, seolah dia sudah menentukan tujuan, meskipun tujuannya hanyalah kamar sewaan murahan di gang sebelah. Itu adalah sebuah bangunan bata merah kusam yang menjulang di antara toko roti yang tutup dan kedai minuman keras.
 
Mereka menaiki tangga kayu yang berderit. Setiap langkah adalah pengumuman, sebuah pengakuan yang mereka berdua tolak untuk dengarkan. Lantai di atas terasa lebih dingin daripada di jalan. Udara di lorong itu tebal dengan bau debu, rokok basi, dan keputusasaan yang tidak diakui.
 
Pria itu membuka kunci pintu. Bukan kunci yang bagus. Murahan. Dia menyalakan lampu gantung tunggal di langit-langit yang rendah. Lampunya kuning, berkedip, dan tidak menjanjikan kehangatan, hanya sekadar penerangan yang wajib. Ruangan itu kecil. Sebuah ranjang, meja kecil, dan wastafel kotor di sudut. Tidak ada yang lain. Tidak ada gambar, tidak ada buku, tidak ada identitas. Itu sempurna. Sebuah tempat untuk menyelesaikan transaksi.
 
Elara berdiri di ambang pintu. Dia tidak bergerak masuk. Dia melihat sekeliling, mencatat ketidakberadaan hal-hal. Ketidakadaan harapan.
 
Pria itu melepas mantelnya yang basah. Dia menggantungnya di punggung kursi.
 
“Dingin di sini,” katanya, sebuah pernyataan fakta, bukan keluhan.
 
“Tidak ada yang peduli,” balas Elara.
 
Dia tidak memandangnya. Dia memandang ke luar jendela, di mana pantulan cahaya kuning dari kamar itu memudar di kaca yang kotor. Salju masih turun, tampak lebih tebal sekarang, seperti selimut putih yang siap mengubur kota.
 
“Anda tidak perlu ragu,” kata pria itu. Suaranya kosong, seperti air yang mengalir di saluran pembuangan.
 
Elara menoleh ke arahnya. “Saya tidak ragu. Keraguan tidak ada gunanya. Itu hanya membuang waktu.”
 
Dia berjalan masuk. Dia tidak mendekati ranjang. Dia berdiri di tengah ruangan. Dia tidak melepas mantelnya. Dia tidak memberinya apa-apa selain kehadirannya yang dingin.
 
Pria itu berjalan mendekat. Dia tidak mencoba menyentuhnya. Dia tidak mengatakan hal-hal bodoh. Dia hanya menatap matanya. Mata Elara gelap dan datar, seperti air sumur tua. Dia mencari sesuatu di sana, dan dia tahu dia tidak akan menemukannya.
 
“Ini adalah sebuah penarikan. Bukan pertukaran,” kata Elara.
 
“Saya mengerti,” jawabnya. “Saya hanyalah alat. Sebuah pisau untuk memotong tali.”
 
Dia tidak bergerak maju lagi. Dia menunggu. Itu adalah hal yang paling jujur yang bisa dia lakukan. Memberinya kendali terakhir atas momen ini.
 
Elara menghela napas, hampir tak terdengar. Bukan desahan kelegaan atau kepuasan. Lebih seperti suara yang dikeluarkan oleh mesin yang sudah terlalu lama bekerja.
 
“Tidak perlu bicara lagi,” katanya. “Selesaikan saja.”
 
Dia melepas satu kancing mantelnya. Lalu kancing berikutnya. Gerakannya lambat, mekanis, seperti menghitung uang receh. Dia tidak terburu-buru. Waktu tidak penting. Yang penting adalah penyelesaian.
 
Pria itu berdiri diam, tangannya di sisi tubuhnya. Dia adalah sebuah siluet di bawah cahaya kuning yang bergetar. Dia tidak lagi menjadi seorang pria. Dia adalah sebuah fungsi, sebuah pekerjaan, sebuah penghapusan.
 
Saat Elara menjatuhkan mantelnya ke lantai yang dingin, pria itu akhirnya bergerak. Tidak ada kelembutan. Tidak ada janji. Hanya tindakan. Itu adalah urusan yang cepat dan sunyi. Kedua-duanya sama-sama absen dari momen tersebut. Mereka ada di sana, di dalam ruangan kecil yang bau itu, tetapi bagian penting dari diri mereka telah menarik diri, menunggu di sudut.
 
Setelah selesai, pria itu bergerak menjauh darinya, kembali ke tempat dia berdiri sebelumnya, di dekat kursi tempat mantelnya tergantung. Itu adalah jarak yang tepat. Jarak yang disyaratkan oleh kehormatan yang tidak mereka miliki.
 
Elara bangkit dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya kembali dengan cara yang sama seperti dia melepaskannya: perlahan, teliti, tanpa emosi. Dia tidak melihat ke arah ranjang. Dia tidak melihat ke arah pria itu. Dia melihat tangannya saat dia mengancingkan kembali mantelnya.
 
“Sudah selesai,” kata pria itu.
 
“Ya,” jawab Elara. Nada suaranya tidak berubah. Tidak ada rasa lega, tidak ada rasa jijik, tidak ada kemenangan. Hanya sebuah pengakuan sederhana bahwa sebuah peristiwa telah berakhir.
 
Dia mengambil cangkir kopi dingin dari sakunya—dia lupa meletakkannya di bar—dan menyentuhnya. Dingin.
 
“Terima kasih,” katanya, tetapi itu terdengar seperti ‘Selamat tinggal’ yang diucapkan dengan kelelahan.
 
Pria itu mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak menawarkan rokok, tidak menawarkan minuman, tidak menawarkan nama. Dia sudah selesai dengan fungsinya.
 
Elara berjalan ke pintu. Dia tidak melihat ke belakang. Dia menarik pintu hingga terbuka. Bau udara dingin langsung menyambutnya. Itu segar, tajam, dan membersihkan bau pengap di dalam ruangan.
 
Dia melangkah keluar. Dia menuruni tangga kayu yang sama, sekarang tanpa beban yang dia bawa saat naik. Dia berada di jalanan lagi. Salju telah berhenti. Kota itu sekarang diam, diselimuti putih yang bersih.
 
Elara berjalan di bawah cahaya bulan yang dingin. Dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan sesuatu. Dan dia merasa kosong. Tidak sakit, tidak bahagia. Hanya kosong.
 
Dia tahu. Itu adalah kebebasan yang dia beli. Dan seperti semua kebebasan yang pantas, rasanya tidak seperti yang dia bayangkan. Itu hanya dingin. Dan itu sudah cukup.

                        ***************

Elara berjalan kaki menembus kota. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Tidak ada taksi yang lalu-lalang dan dia tidak mencarinya. Dia ingin merasakan dinginnya udara pagi. Dinginnya itu nyata. Itu bagus.
 
Dia tiba di apartemennya sebelum fajar menyingsing sepenuhnya. Bangunan itu adalah deretan beton abu-abu yang menjemukan, berdiri tegak dan jujur di bawah langit yang mulai cerah. Pintu masuknya berat, terbuat dari baja, dan tidak ramah.
 
Dia menaiki tiga lantai menuju unitnya. Kunci kuningan itu terasa dingin di tangannya. Dia membukanya, masuk, dan menutupnya dengan pelan. Tidak ada bunyi ‘klik’ yang memuaskan. Hanya keheningan.
 
Apartemennya kecil. Bersih. Tidak ada yang berantakan. Tidak ada yang menandakan kehidupan yang berapi-api. Meja, dua kursi, tempat tidur yang dibuat rapi, dan sebuah jendela yang menghadap ke dinding bata lain. Itu adalah ruangan untuk bertahan hidup, bukan untuk tinggal.
 
Hal pertama yang dia lakukan adalah mandi. Dia memutar keran air panas sekuat mungkin, tetapi airnya hanya mencapai suhu suam-suam kuku. Dia berdiri di bawah semprotan itu, membiarkan uap tipis menempel di kaca. Dia menggosok kulitnya dengan sabun batang murah yang tidak berbau. Dia tidak mencoba membersihkan apa pun yang terjadi semalam; dia hanya menghilangkan bau kota dan bau kamar sewaan itu.
 
Saat dia melihat dirinya di cermin yang berembun, dia tidak melihat perbedaan. Elara tetaplah Elara. Garis rahang yang tajam. Mata yang sama, gelap dan tanpa pertanyaan. Sesuatu telah pergi, ya, tetapi kekosongan itu hanya digantikan oleh kekosongan yang lain. Ini hanyalah pergantian inventaris.
 
Dia mengenakan pakaian kerjanya: blus putih bersih dan rok pensil abu-abu. Pakaian yang tidak menarik perhatian, yang menyamarkan tubuh menjadi bentuk yang efisien.
 
Di dapur kecilnya, dia membuat kopi. Kali ini dia membuatnya lebih pekat, lebih hitam. Dia duduk di salah satu kursi, menghadap ke dinding, dan memegang cangkir itu dengan kedua tangannya. Panasnya mencapai telapak tangannya, tetapi tidak menjangkau ke dalam.
 
Dia memeriksa jam tangannya. Jam 06.15 pagi. Masih ada waktu satu jam lima belas menit sebelum dia harus meninggalkan tempat ini menuju kantor akuntan tempat dia bekerja.
 
Dia tidak membaca surat kabar. Dia tidak menyalakan radio. Dia tidak memikirkan pria itu. Memikirkannya akan memberinya terlalu banyak substansi. Pria itu hanyalah sebuah peristiwa, sebuah titik pada garis lurus.
 
Dia mulai menghitung. Bukan angka di kantor. Dia menghitung kancing di blusnya—tujuh. Dia menghitung jumlah ubin lantai yang terlihat dari tempatnya duduk—sembilan belas. Dia menghitung berapa kali dia menarik napas dalam satu menit. Itu adalah cara untuk mengendalikan sesuatu, apa pun, di dunia yang tidak bisa dia kendalikan.
 
Keputusan untuk menyelesaikan 'urusan' semalam seharusnya memberinya ledakan, sebuah pembebasan. Seharusnya ada kembang api, atau setidaknya air mata. Namun yang ada hanyalah ketenangan datar yang sama. Dia telah meremehkan betapa sunyi dan sepinya kehidupan itu sendiri. Perawan atau bukan perawan, dinginnya dunia tetap sama.
 
Saat kopi pertamanya habis, dia menuang yang kedua. Dia menatap cangkirnya, memperhatikan pantulan kabur dari lampu dapur.
 
Tiba-tiba, dia merasakan sensasi asing. Bukan emosi, tetapi sensasi fisik, seperti ada kerikil yang berpindah tempat di dalam perutnya. Dia telah menutup satu bab. Itu sudah selesai. Dia telah melakukan apa yang dia pikir perlu dilakukan untuk melewati ambang batas tertentu.
 
Namun, yang dia temukan di sisi lain hanyalah ambang batas yang lain, yang sama kosongnya.
 
"Selesai," bisik Elara ke cangkirnya yang panas.
 
Dia berdiri. Saatnya untuk bekerja. Dia mengambil tasnya, tas kulit hitam yang usang yang hanya berisi dompet dan pena. Dia memadamkan lampu.
 
Saat dia berjalan keluar, melangkah di atas salju yang sudah mulai kotor karena lalu lintas pagi, dia adalah pegawai kantor yang kembali dari akhir pekan yang sunyi.
 
Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan. Tidak ada yang perlu tahu. Itu adalah urusannya. Dia telah membayar utangnya kepada masa lalu. Sekarang dia bisa melanjutkannya, sama kosongnya, sama-sama dingin.
 
Dia sampai di halte bus. Bus datang, besar dan penuh dengan orang-orang yang lelah. Dia naik, berdiri di bagian belakang, dan memandang ke luar jendela ke arah kota yang membangunkan dirinya sendiri dengan suara klakson dan derit rem.
 
Dia tahu satu hal. Sesuatu telah berubah, bukan di dalam dirinya, tetapi dalam pengetahuannya tentang dunia. Dia sekarang tahu bahwa melakukan hal-hal tidak membawa kehangatan. Hanya ada dingin, dan dia harus bekerja dengannya.
 
Ini adalah kehidupan lamanya. Dan itu tidak berbeda dari malam yang baru saja berakhir. Itu hanyalah sebuah transaksi yang harus dia selesaikan setiap hari.

                    **************

Seminggu berlalu, Elara kembali ke bar itu. Dia berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Dia mengenakan mantel wol yang sama, tetapi kali ini kancingnya tertutup rapat sampai ke leher. Dia tidak merasakan angin. Dia telah melatih tubuhnya untuk menerima dingin sebagai fakta, bukan sebagai gangguan. Dia tidak mencari hiburan. Hiburan adalah untuk orang-orang yang merasa ada yang kurang dalam hidup mereka. Elara tidak merasa kurang. Dia merasa tepat.

Dia mendorong pintu bar. Lonceng di atas pintu berbunyi, sebuah denting tunggal yang terdengar lelah. Udara di dalam bar tebal. Baunya seperti campuran tembakau tua, lantai kayu yang lembap, dan bir yang tumpah bertahun-tahun lalu. Itu adalah bau kejujuran. Tidak ada parfum yang mencoba menutupi kenyataan di sini.

Bar itu hampir kosong. Hanya ada dua orang tua di ujung ruangan, berbicara dalam bahasa yang terdengar seperti gerutuan mesin yang rusak. Bartender, seorang pria gemuk dengan celemek yang tidak lagi putih, sedang mengelap gelas dengan kain yang meragukan. Dia tidak menatap Elara saat dia masuk.

Elara memilih tempat duduk. Bangku yang sama. Sudut yang sama. Kulit bangku itu retak di sana-sini, memperlihatkan busa kuning di bawahnya. Dia menyukai retakan itu. Itu membuktikan bahwa bangku itu telah bertahan lama.

Bartender itu akhirnya datang, menyeret kakinya.

"Kopi," kata Elara. "Hitam. Panas."

"Kami punya bir bagus," gumam bartender itu, tanpa niat menjual.

"Kopi."

Bartender itu pergi. Dia kembali sesaat kemudian dengan cangkir tebal yang retak di bibirnya. Cairan di dalamnya gelap dan uapnya naik lurus ke atas, tidak terganggu oleh angin apa pun.

Elara meletakkan kedua tangannya di sekeliling cangkir itu. Dia tidak meminumnya. Dia hanya memegang panasnya, memastikan saraf-saraf di ujung jarinya masih berfungsi. Dia melihat ke pintu. Dia tidak menunggu. Menunggu menyiratkan harapan. Dia hanya mengamati. Dia adalah seorang auditor yang kembali ke lokasi audit untuk memastikan catatannya benar.

Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka lagi. Angin dingin menyelinap masuk, menyapu lantai sebelum pintu tertutup kembali.

Lelaki itu masuk.

Dia terlihat sama. Mantelnya panjang, basah di bagian bahu karena salju yang mulai turun lagi. Wajahnya kasar, seolah dipahat dari batu kapur dengan pahat yang tumpul. Dia tidak melihat ke sekeliling. Dia tahu persis ke mana dia akan pergi. Dia berjalan ke bar, meletakkan tangannya yang besar di atas meja kayu yang dipoles oleh siku ribuan pemabuk.

"Seperti biasa," katanya. Suaranya berat, seperti suara pintu besi yang digeser. "Double whisky."

Elara memperhatikan punggung lelaki itu. Punggung itu lebar dan sedikit membungkuk, bukan karena usia, tapi karena beban gravitasi yang dia terima begitu saja.

Lelaki itu menerima gelasnya. Cairan amber itu berkilau di bawah lampu neon yang suram. Dia tidak meminumnya. Dia memutar gelasnya, membuat es batu di dalamnya beradu. Kling. Kling. Suara itu tajam di ruangan yang sunyi.
Lelaki itu berbalik. Dia bersandar pada bar, menghadap ke ruangan. Matanya menyapu ruangan, melewati kursi-kursi kosong, melewati dua orang tua di ujung, dan berhenti pada Elara.

Tidak ada kejutan di wajahnya. Tidak ada senyum. Tidak ada kerutan di dahi. Dia hanya menatap, seolah Elara adalah bagian dari perabot yang mungkin telah dipindahkan sedikit, tetapi tetap pada tempatnya.
Dia mengambil gelasnya dan berjalan perlahan. Langkah kakinya berat di lantai kayu. Dia berhenti di depan meja Elara.

"Kursi ini kosong?" tanyanya.

"Selalu kosong," jawab Elara.

Lelaki itu duduk. Dia meletakkan gelas double whisky-nya di atas meja, tepat di sebelah cangkir kopi Elara. Kontrasnya jelas: hitam pekat dan emas transparan. Panas dan dingin.

"Kau kembali," kata lelaki itu. Dia tidak menatap Elara; dia menatap gelasnya sendiri.

"Aku punya waktu luang," jawab Elara. "Dan kopi di sini lumayan."

"Kopinya buruk," koreksi lelaki itu. "Rasanya seperti tanah yang dibakar. Tapi panas. Itu satu-satunya kelebihannya."

"Itu cukup untukku."

Lelaki itu menyesap minumannya. Dia memejamkan mata sejenak saat alkohol itu membakar tenggorokannya. Itu adalah satu-satunya tanda emosi yang dia tunjukkan—reaksi fisik terhadap stimulus kimia.

"Kebanyakan orang tidak kembali ke tempat kejadian perkara," kata lelaki itu setelah meletakkan gelasnya. "Terutama jika perkaranya adalah sesuatu yang ingin mereka buang."

"Aku tidak membuang apa-apa," bantah Elara dengan tenang. "Aku menyelesaikan transaksi. Ketika kau membayar tagihan, kau tidak membenci kasirnya. Kau hanya menyimpan struknya dan pergi."

Lelaki itu tertawa kecil. Itu bukan tawa yang menyenangkan. Itu suara kering, seperti daun kering yang diinjak.

"Transaksi," ulangnya. Dia memutar es di gelasnya lagi. "Kau bicara seperti kau terbuat dari kalkulator dan tinta."

"Memangnya kita terbuat dari apa lagi?" tanya Elara. "Daging? Darah? Itu hanya kemasan. Isinya adalah hitungan. Untung dan rugi. Masuk dan keluar."

Lelaki itu menatap Elara sekarang. Tatapannya tajam, menyelidik. Dia mencari retakan di wajah Elara, mencari tanda penyesalan, atau rasa malu, atau setidaknya sedikit kelembutan.

"Malam itu," kata lelaki itu, suaranya merendah. "Itu bukan tentang nafsu untukmu."

"Bukan."

"Dan itu bukan tentang cinta."

"Jelas bukan."

"Itu tentang... pembersihan," simpul lelaki itu.

"Itu tentang menghapus baris yang tidak perlu dalam pembukuan," kata Elara. Dia mengangkat cangkirnya dan meminum kopinya. Pahit. Dia menyukainya. "Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang ajaib tentang hal itu. Semua orang bilang itu mengubah hidup. Novel, film, lagu. Mereka semua berbohong."

"Mereka dibayar untuk berbohong," kata lelaki itu. "Jika mereka mengatakan yang sebenarnya—bahwa itu hanya gesekan dan keringat dan kemudian selesai—tidak ada yang akan membeli tiket bioskop."

"Tepat," kata Elara. "Aku kembali ke sini malam ini untuk memastikan satu hal."

"Memastikan apa?"

"Memastikan bahwa aku tidak merasakan apa-apa saat melihatmu."

Lelaki itu terdiam. Dia tidak tersinggung. Di dunia mereka, ketersinggungan adalah kemewahan yang tidak berguna. Dia justru tampak tertarik, seperti seorang ilmuwan yang mengamati spesimen langka.

"Dan?" tanya lelaki itu. "Bagaimana hasilnya? Apakah jantungmu berdebar? Apakah kau merasa jijik? Apakah kau merasa rindu?"

Elara menatap mata lelaki itu. Mata itu berwarna abu-abu, keruh, seperti langit di luar jendela. Dia memeriksa ke dalam dirinya sendiri, memindai setiap organ, setiap saraf.

"Tidak," katanya. "Kosong. Sama seperti melihat kursi itu."

Lelaki itu mengangguk perlahan. Dia mengangkat gelasnya ke arah Elara, sebuah bersulang tanpa suara.
"Selamat," katanya. "Kau sudah lulus. Kau sekarang resmi menjadi warga kota ini. Dingin, keras, dan tidak bisa dilukai."

"Apakah itu hal yang baik?" tanya Elara. Untuk pertama kalinya, ada sedikit nada ingin tahu dalam suaranya. Bukan keraguan, hanya pertanyaan akademis.

"Itu bukan hal yang baik atau buruk," jawab lelaki itu. Dia menghabiskan separuh dari double whisky-nya dalam satu tegukan besar. "Itu adalah baju zirah. Baju zirah itu berat. Kau tidak bisa berlari cepat saat memakainya. Kau tidak bisa merasakan sentuhan lembut saat memakainya. Tapi baju zirah itu menjagamu tetap hidup saat orang lain hancur."

Elara merenungkan kata-kata itu. Dia membayangkan dirinya mengenakan baju zirah besi. Berat, ya. Tapi aman. Tidak ada yang bisa masuk. Tidak ada yang bisa mengambil apa pun lagi darinya.

"Aku bisa hidup dengan itu," kata Elara.

"Kita semua bisa," kata lelaki itu. "Itu sebabnya kita ada di bar ini pada hari Minggu malam, minum cairan yang membakar dan cairan yang pahit. Karena kita sedang memoles baju zirah kita."

Lelaki itu mengeluarkan bungkus rokok dari saku jaketnya. Dia menawarkannya pada Elara. Elara menggeleng. Lelaki itu mengambil satu, menyalakannya dengan korek api yang berbau belerang. Asap biru mengepul, naik ke atas, dan menghilang di antara bayangan langit-langit.

"Siapa namamu?" tanya lelaki itu tiba-tiba. Pertanyaan itu datang terlambat, seperti catatan kaki di akhir buku yang panjang.

Elara ragu sejenak. Memberikan nama terasa seperti memberikan sesuatu yang nyata, sesuatu yang berharga. Tapi kemudian dia sadar, nama hanyalah label. Label tidak mengubah isi botol.

"Elara," katanya.

Lelaki itu mengangguk, menghembuskan asap rokok ke samping.

"Fritz," katanya.

Hanya itu. Tidak ada jabat tangan. Tidak ada senyum ramah. Nama-nama itu jatuh ke meja di antara mereka, berbaring di sana seperti dua koin asing yang tidak bisa dibelanjakan.

"Elara," ulang Fritz pelan, seolah menguji rasa kata itu di lidahnya. "Nama yang bagus. Terdengar seperti nama bintang. Bintang yang jauh dan dingin."

"Fritz," balas Elara. "Terdengar seperti suara mesin yang berhenti bekerja."

Fritz tertawa lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Kau benar. Mesin yang berhenti bekerja. Itu deskripsi yang akurat."

Dia menghabiskan sisa double whisky-nya. Es batu di gelasnya sekarang sudah mencair, meninggalkan air tawar yang bercampur dengan sisa alkohol.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Elara?" tanyanya. "Kau sudah memastikan bahwa kau kosong. Kau sudah memastikan bahwa aku hanyalah mesin yang rusak. Lalu apa?"

"Aku akan bangun besok," kata Elara. "Aku akan pergi ke kantor. Aku akan menyeimbangkan neraca. Dan aku akan makan siang sendirian. Dan aku akan melakukannya lagi lusa."

"Rencana yang solid," kata Fritz. "Tanpa kejutan."
 
"Tanpa kejutan."

Mereka terdiam.
 
Di luar, salju turun semakin lebat. Angin melemparkan butiran-butiran putih itu ke kaca jendela, mencoba masuk, mencoba membekukan mereka. Tapi mereka sudah beku. Mereka sudah aman.

Fritz tidak memesan minuman lagi. Elara tidak menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin.
Mereka hanya duduk di sana.
 
Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kata-kata hanya akan mengotori keheningan yang sempurna itu. Keheningan itu adalah sebuah persetujuan. Sebuah pakta tak tertulis antara dua orang yang telah melihat ke dalam jurang kekosongan dan memutuskan untuk membangun rumah di sana.

Elara menatap ke depan. Fritz menatap gelas kosongnya.
 
Waktu berjalan di sekitar mereka, detik demi detik, tapi di meja itu, waktu seolah berhenti. Mereka duduk dalam keheningan, dua patung di dalam kuil kesepian, tenang dan tak tersentuh.